MEDIASEPAKBOLA.co

SOS Tuntut PSSI Ungkap Dalangnya Sepakboa Gajah

Manchester United's English forward Wayn...Manchester United's English forward Wayne Rooney (up) celebrates after Dutch teammate Robin van Persie scored during against Aresnal during their English Premier League football match at Old Trafford in Manchester, northwest England, on November 3, 2012. AFP PHOTO/ANDREW YATES  == RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or live services. Online in-match use limited to 45 images, no video emulation. No use in betting, games or single club/league/player publications ==ANDREW YATES/AFP/Getty Images

Kabar mengejutkan datang dari kantor PSSI, di Gran Rubina Bussiness Park, Jalan Rasuna Said, Kavling C-22, Jakarta Selatan. Berdasarkan hasil rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI, 10 Januari 2017, Ketua Umum PSSI, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, mengeluarkan Surat Keputusan bernomor 021/KEP/PK-PSSI/I/2017 tentang Peninjaun Kembali (PK) terhadap hukuman yang dijatuhkan Komite Disiplin PSSI bernomor 213/DU/KD-PSSI/XI/2014 terkait tragedi sepak bola gajah (TraGajah) yang melibatkan PSS Sleman dan PSIS Semarang dalam laga terakhir Babak Delapan Besar Grup N Divisi Utama 2014 di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta, Rabu, 26 Oktober 2016.

Tolal, 23 dari 50 pemain, pelatih dan ofisial terhukum (24 PSIS dan 26 PSS), mendapatkan pengampunan melalui SK Peninjauan Kembali Ketua Umum PSSI tersebut. Rinciannya 10 personel dari PSS, yakni Heri Kiswanto, Edi Broto, Herwin Sirajudin, Anang Hadi, Mudah Yulianto, Eko Setiawan, Ridwan Awaludin, Moniaga Bagus, Wahyu Gunawan, dan Marwan Muhammad. Sementara 13 personel dari PSIS, yakni Eko Riyadi, Setiawan Londo, Budi Cipto, Vidi Hasiholan, Syahrul Anam, Eli Nasoka, Taufik Hidayat, Andi Rohmad, Frangky, Sunar Sulaiman, Saptono, Ronald Fagundez, dan Julio Alcorse.

Tentu, ini kabar gembira bagi mereka yang mendapatkan pengampunan karena bisa kembali berkiprah di sepak bola nasional. Tapi, bagaimana nasib 27 pemain lain yang statusnya masih menggantung?

“Niat PSSI cukup baik. Memberikan pengampunan kepada sejumlah pemain, pelatih dan ofisial yang terlibat sepak bola gajah agar bisa kembali mengais rezeki di sepak bola. Tapi, cara pengambilan putusannya sangat tidak transparan dan mengundang tanda tanya. Selain dadakan, juga tanpa proses rekonstruksi dan pengungkapan fakta sesungguhnya. Tak ada penjelasan secara gamblang kenapa sebagian mendapatkan pengampunan, sementara sebagian lagi tidak,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS. “PSSI seperti hanya menyapu lantai yang kotor, tanpa mengepelnya. Artinya, masih banyak debu yang tertinggal di lantai karena membersihkannya tidak total,” Akmal menambahkan.

#SOS meminta PSSI serius menangani dan mengurai akar masalah sepak bola gajah secara tuntas. Maklum, kasus ini bukan sembarangan. Dagelan sepak bola tersebut menjadi sorotan dunia. Media internasional seperti Eurosport, Daily Mail, dan The Guardian. serta Media Singapura, The New Paper, mengangkatnya sebagai tragedi penistaan sepak bola. Pasalnya, lima gol yang terjadi di pertandingan yang dimenangkan PSS 3-2 itu dilakukan melalui gol bunuh diri yang disengaja. Kedua tim berusaha kalah agar tak bertemu Pusamania Borneo FC, runner-up Grup P, di semifinal yang disebut-sebut sudah pasti dapat satu tiket promosi ke Indonesia Super League (ISL). Memalukan!

“PSSI harus menemukan dan mengungkap dalangnya serta memberikan hukuman seberat-beratnya. Bentuk Tim Pencari Fakta (TPF) dan rekonstruksi ulang kasus sepak bola gajah,” kata Akmal. “Jangan sampai permasalahan ini dibiarkan karena akan jadi preseden buruk. Jangan sampai kedepannya ada yang beranggapan sepak bola gajah itu sesuatu yang boleh. Dan, kalau pun dapat hukuman akan dengan mudah diberikan pengampunan,” Akmal menambahkan.

Untuk mengurai kasus sepak bola gajah. Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, bisa menugaskan Departement Sport Intelegent, Fary Djemy Francis, dan Departemen Kepatuhan dan Integritas, John Fresly Hutahayan, yang baru saja dilantik, Jumat (27/1) untuk menuntaskannya. Membentuk Tim Pencari Fakta, melakukan rekonstruksi ulang, dan meminta keterangan yang sebenar-benarnya kepada para pelaku untuk menemukan dalang atau aktor di balik layar.

Dari hasil temuan Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) SOS, ada beberapa kejanggalan dari vonis yang dijatuhkan Komdis PSSI. Pertama, terkait gol bunuh diri. Disebutkan bahwa pencetak gol bunuh diri untuk PSIS adalah Komaedi,  Fadli Manan, dan Saptono. Sementara dari kubu PSS Hermawan Putra Jati, dan Riyono. Sejatinya, bukan Fadli Manan yang melakukan gol bunuh diri, tapi Taufik Hidayat. Ketika itu, Inspektur Pertandingan (IP) salah catat dan berjanji akan memperbaikinya. Sayang, Komdis tutup mata. Sementara Fadli sudah terlanjur dijanjikan akan diringankan hukumannya dengan mengakui saja di atas kertas bermaterai. Bahkan, ada oknum yang mengaku dekat dengan PSSI yang berusaha meyakinkan Fadli akan diringankan hukumannya dengan menyetorkan uang Rp 50 juta.

Selain Fadli, banyak pemain juga yang mengaku hukuman yang dijatuhkan sangat tidak memenuhi azas keadilan. Mereka tak diberikan kesempatan menjelaskan secara transparan. Jangan sampai juga pengampunan sebagian pemain yang dilakukan bukan atas azas keadilan, tapi karena factor like dan dislike.

“Keseriusan PSSI untuk menuntaskan tragedy bola gajah dinanti masyarakat sepak bola Indonesia. Ini juga bisa menjadi pijakan kesungguhan PSSI untuk melakukan reformasi sepak bola Indonesia sekaligus menjadikan PSSI profesional dan bermartabat seperti visi dan misi Ketua Umum PSSI,” Akmal menegaskan.

Menurut #SOS kasus sepak bola gajah ini harus diurai bukan hanya yang terjadi di lapangan. Tapi, harus juga diungkap dari sebelum pertandingan kenapa kasus ini sampai terjadi. Berdasarkan temuan #SOS sebelum pertandingan, kedua tim sudah takut bertemu Pusamania Borneo FC.

“Ini semua harus diungkap dengan jelas dan terbuka agar tak terulang di kemudian hari. Mereka yang ternyata tak bersalah harus diputihkan dan dibersihkan namanya,” Akmal menjelaskan. “Ini penting agar tak ada beban buat pengurus PSSI. Jangan sampai seperti kasus Mursyid Effendi di Piala Tiger 1998. Dia dihukum dan harus melupakan sepak bola, tapi actor intelektualnya bebas. Rekontruksi ulang demi keadilan dan kebenaran harus dilakukan,” Akmal menambahkan.

Mereka Mendapatkan Pengampunan Kasus TraGajah (Tragedi Sepak Bola Gajah):

PSS (10 Personel)

Heri Kiswanto, Edi Broto, Herwin Sirajudin, Anang Hadi, Mudah Yulianto, Eko Setiawan, Ridwan Awaludin, Moniaga Bagus, Wahyu Gunawan, dan Marwan Muhammad.

PSIS (13 personel)

Eko Riyadi, Setiawan Londo, Budi Cipto, Vidi Hasiholan, Syahrul Anam, Eli Nasoka, Taufik Hidayat, Andi Rohmad, Frangky, Sunar Sulaiman, Saptono, Ronald Fagundez, dan Julio Alcorse.

Beriut ini Pihak Terhukum Kasus TraGajah (Tragedi Sepak Bola Gajah):

Kategori 1: Memerintahkan Pemain

Wahyu “Liluk” Winarto (Manajer PSIS)

Eko Riyadi (Pelatih PSIS)

Supardjiono (Manajer PSS)

Herry Kiswanto (Pelatih PSS)

Eri Febrianto (Sekretaris Tim PSS)

Rumadi (Ofisial Tim)

Hukuman: Larangan seumur hidup dan denda Rp 200 juta

Kategori 2 : Mengetahui, Tapi Tak Mencegah

Dwi Setiawan (Asisten Pelatih PSIS)

Budi Cipto (Asisten Pelatih PSIS)

Edi Broto (Asisten Pelatih PSS)

Herwin Sjahruddin (Pelatih Fisik PSS)

Hukuman: 10 tahun larangan main dan denda Rp 150 juta

Kategori 3 : Mencetak Gol Bunuh Diri dan Menghalangi Terjadinya Gol

Komaedi (PSIS)

Fadli Manan (PSIS)

Saptono (PSIS)

Catur Adi Nugroho (PSIS)

Agus Setiawan (PSS)

Hermawan Putra Jati (PSS)

Riyono (PSS)

Hukuman: larangan seumur hidup dan denda Rp 100 juta

Kategori 4 : Main di Lapangan, Tapi Tak Mencetak Gol

Sunar Sulaiman, Anam Syahrul, Taufik Hidayat, Andi Rahmat, Eli Nasoka, Vidi Hasiholan, Franky Mahendra (PSIS)

Marwan Muhammad, Agus Setiawan, Satrio Aji Saputro, Wahyu Gunawan, Ridwan Awaludin, Anang Hadi Saputro, Eko Setiawan, Mudah Yulianto, Moniega Bagus Suwardi (PSS)

Hukuman: larangan main selama lima tahun dan denda Rp 50 juta

Kategori 5 : Pemain Cadangan, Mengetahui Kasus Tapi Menutupi

Iva Andre, Safrudin Tahar, Ediyanto, Ahmad Nurfiandini, Hari Nur Yulianto (PSIS)

Rasmoyo, Gratheo Hadi Winata, Waluyo, Saktiawan Sinaga, Cristian Adelmud, Gay Junior NikeOndoua (PSS)

Hukuman: larangan bermain setahun masa percobaan lima tahun dan denda Rp 50 juta

Kategori 6 : Pemain Asing, Cadangan, Jadi Panutan Tapi Menunjukkan Perilaku Tak Peduli

Ronald Fagundez, Julio Alcorse  (PSIS)

Hukuman: larangan bermain lima tahun dan denda Rp 150 juta

Kategori 7 : Pembantu Umum

Suyatno  (Pembantu Umum PSIS)

Ajib (Media PSIS)

Surya Kuda (Kitman PSS)

Yono (Meassure PSS)

Hukuman: setahun masa percobaan.

*Sumber: Litbang Save Our Soccer (SOS)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments