MEDIASEPAKBOLA.co

Konflik Persebaya, Dari Hukuman PSSI Hingga Dualisme (Bagian 2)

save persebaya

Kiprah Persebaya Surabaya selama berkompetisi di LPI dan IPL bisa dikatakan bagai dua mata koin yang berlawanan. Diurutan klasemen dan prestasi, Persebaya berhasil menjadi juara paruh musim LPI dan menjadi runner up klasemen era IPL.

Nuansa profesionalitas sebuah klub sepak bola yang semangat bersuaranya begitu kencang saat presentasi LPI, ternyata menjadi malapetaka yang berakibat banyaknya tunggakan gaji dan pembayaran staf yang ibarat besar pasak daripada tiang. Budgeting klub sepak bola ala era APBD masih saja digunakan dan tertancap di otak para pengurus Persebaya saat itu.

Selain adanya gangguan dan politisasi tiada henti dari pengurus PSSI lama dengan muka baru, rombongan La Nyalla Mattaliti berhasil menguasai kembali PSSI dengan menjadikan ketua PSSI yang baru Djohar Arifin hanya sebagai “boneka”. Persebaya pun di era pengurus baru tapi nuansa lama kembali lagi tidak diakui sebagai anggota PSSI dan malah muncul tim baru yang diakui sebagai Persebaya.

Masalah pelik antara dualisme tim bernama Persebaya dan tunggakan gaji pemain dimulai saat berbagai permasalahan di internal tim terjadi, mulai mark up anggaran seperti transportasi bis pemain dan dibuangnya beberapa pengurus untuk meninggalkan Persebaya.

CEO PT Pengelola Persebaya Indonesia, Llano Mahardika, dihujat habis-habisan karena ingin menyehatkan Persebaya, dengan cara yang sama seperti ketika akan menggulingkan Arif Affandi. Llano pun akhirnya digantikan oleh Dityo Pramono.

Tidak selesai sampai disitu, Cholid Ghorommah pun mengajak serta Gede Widiade untuk masuk ke PT PPI hingga terjadi kekacauan management karena dualisme kepemimpinan antara Dityo Pramono dan Gede Widiade, bahkan dalam event internasional antara Persebaya versus Queens Park Ranger pun Dityo Pramono tidak diberi kesempatan melakukan jumpa pers karena panggung itu dikuasai sepenuhnya oleh Gede Widiade.

Di akhir cerita Gede Widiade pun akhirnya berhasil menjadi CEO PT PPI namun pada akhirnya meninggalkan Persebaya dan menyerahkan kepemimpinan kepada Cholid Ghoromah yang juga menjabat sebagai Direktur PT Persebaya Indonesia, hingga PSSI membunuh Persebaya menggantikannya dengan tim baru yang dinamai Persebaya, meninggalkan tumpukan hutang pada pemain, pelatih dan official Persebaya.

Hingga saat ini Cholid tidak mau bertanggung jawab pada gaji dan sisa hutang yang belum selesai dikarenakan beliau meyakini bahwa hutang tersebut adalah tanggung jawab PT PPI, yang pada faktanya sudah diserah terimakan pada Cholid diakhir masa PT PPI mengelola Persebaya.

Kembali terulang buruknya kinerja punggawa PT Persebaya Indonesia dalam mengelola tim akan terus menerus terjadi jika kekuasaan tertinggi tetap pada komposisi seperti ini. Jika personel yang sudah terbukti gagal terus menerus ada dalam Persebaya tidak diganti bukan tidak mungkin dikemudian hari akan kembali terjadi lagi. Di era sepak bola professional, Persebaya harusnya bisa menjadi tim pertama di Indonesia yang bisa dikelola publik (baca: supporter dan klub internal) dengan dukungan investor yang kuat dan kredibel dalam mengelola klub sepak bola layaknya perusahaan professional.

Ide ataupun anggapan bahwa Persebaya bisa dikelola oleh Pemerintahan Kota dengan label BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) sama dengan membawa kembali sepak bola Surabaya di era lama yang tidak professional dan penuh politisasi

Penulis sungguh sangat berharap selain Koperasi Surya Abadi (Koperasi yang anggotanya klub Internal Persebaya), ada Koperasi Suporter yang menjadikan supporter Persebaya benar benar jadi pemilik Persebaya dan menjadikan Persebaya satu satunya tim sepak bola di Indonesia yang dikelola bersama antara publik Surabaya dengan Investor. (AM/GM/UAM)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments