MEDIASEPAKBOLA.co

Konflik Persebaya, Dari Hukuman PSSI Hingga Dualisme (Bagian 1)

persebaya bonek koreo

Konflik yang mendera klub Persebaya Surabaya belakangan ini sejatinya dimulai sejak tahun 2004, setelah klub kebanggaan suporter Bonek itu berhasil menjuarai Liga Indonesia yang kedua kalinya di era penggabungan kompetisi antara Galatama dengan Perserikatan.

Seperti layaknya tim sepak bola Indonesia yang kolaps setelah menjuarai liga, Persebaya pun tak luput dari peristiwa ini. Berhasil menjuarai liga di musim 2005, Persebaya menyiapkan tim dengan sempurna ditambah dengan sokongan media besar Jawa Pos Grup yang memberi dukungan luar biasa.

Bahkan dengan mendatangkan dan membiayai secara pribadi pemain sekaliber punggawa timnas olimpiade China yang pada saat itu masih berusia 19 tahun, bernama Zeng Cheng (saat ini Zeng Cheng menjadi punggawa senior pilihan utama timnas China yang sempat membuat timnas beberapa Negara Eropa kesulitan membobol gawangnya).

Persiapan tim yang luar biasa itu adalah dengan harapan agar Persebaya menjadi juara kembali sekaligus menjadi tim pertama yang menjadi juara 2 musim berturut-turut yang memang belum pernah dicapai oleh tim sepak bola di Indonesia saat itu.

Persebaya melewati babak penyisihan yang saat itu dibagi 2 wilayah barat dan timur dengan baik hingga lolos masuk ke babak 8 besar di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Masalah timbul saat pendukung Persebaya yang dikenal dengan julukan Bonek mulai berdatangan ke Jakarta. Masyarakat Jakarta yang trauma dengan peristiwa perusakan dan stigma negatif Bonek mulai menebar ancaman dan terjadi beberapa peristiwa yang kurang mengenakkan bagi warga Surabaya dan supporter Persebaya saat itu.

Berbagai spanduk dengan inisial ormas bertebaran mengancam agar Bonek tidak melakukan tindakan negatif seperti yang pernah terjadi di tahun 1997 saat Persebaya pertama kali menjuarai Liga Indonesia.

Atas dasar keselamatan warga Surabaya yang berada di Jakarta, walikota Surabaya yang saat itu dijabat oleh Bambang Dwi Hartono memutuskan agar Persebaya mundur dari 8 besar Liga Indonesia. Meski rumor yang beredar dikalangan pemerhati sepak bola saat itu adalah bahwa Persebaya sudah tidak lagi mempunyai jatah juara karena musim sebelumnya tim ini sudah menjadi juara.

Di kalangan penikmat sepak bola sudah bukan rahasia umum jika jatah juara di Liga Indonesia harus “digilir” berdasar pesanan agar calon pemimpin daerah bisa menggunakan pamor kemenangan tim daerah sebagai salah satu sarana memudahkan mereka menuju kekuasaan. Sebuah cara yang diawali di era orde baru oleh partai penguasa orde baru yg berusaha dilestarikan oleh partai tersebut hingga kini di era reformasi.

Akibat mundurnya Persebaya, PSSI menghukum Persebaya selama 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi sepak bola yang lalu direvisi melalui banding ke Komisi Displin PSSI yakni didegradasi ke Divisi 1. Beberapa orang yg ada di dalam management Persebaya juga dihukum. Ketua umum Persebaya yang saat itu selalu dijabat oleh pemimpin daerah Surabaya Walikota Bambang DH dihukum 10 tahun tidak boleh mengikuti kegiatan apapun di PSSI (baca: sepakbola Indonesia).

Selain sang ketua umum, manager Persebaya Saleh Ismail Mukadar juga dijatuhi hukuman selama 2 tahun. Karena kultur yang selama ini terbangun di Surabaya bahwa yang menjadi ketua umum Persebaya adalah pemimpin daerah di Surabaya, maka dipilihlah wakil walikota Surabaya Arif Affandi sebagai ketua umum Persebaya yang baru.

Arif Affandi mantan petinggi Jawa Pos adalah anak kesayangan sang pemilik media, Dahlan Iskan yang seperti disebutkan diatas adalah salah satu investor besar Persebaya di tahun 2005. Di tangan dingin Arif Affandi, tim Persebaya mulai merasakan hawa profesionalitas dengan munculnya nama baru di sepakbola Indonesia. Tersebut nama Indah Kurnia mantan kepala cabang Bank BCA di Surabaya yang saat ini sudah menjadi anggota DPR dari fraksi PDI Perjuangan.

Arif Affandi mencalonkan diri bersama dengan Bambang DH melalui partai yang bersebrangan dengan partai pengusung walikota Surabaya Bambang DH dan mantan manager Persebaya Saleh Ismail Mukadar, hingga rumor yang beredar adalah mantan ketua umum Persebaya dan mantan manager Persebaya tidak setuju jika klub dipimpin oleh rival partai mereka meski sebenarnya Persebaya saat itu cukup memiliki prestasi karena di tahun 2006 dibawah pimpinan Arif Affandi berhasil menjuarai Divisi 1 liga Indonesia dan berhak lolos ke Divisi Utama.

Permasalahan baru muncul saat Persebaya berkompetisi di Divisi Utama, karena pembiayaan kompetisi yang cukup tinggi di level itu. Bahkan sempat mengalami kesulitan keuangan untuk membiayai tim. Manager tim saat itu Indah Kurnia mengusulkan agar efisiensi dilakukan termasuk renegosiasi kontrak pemain dan rasionalisasi gaji pemain.

Entah kebetulan atau tidak, permasalahan yang cukup pelik ini berbarengan dengan berakhirnya hukuman PSSI untuk Saleh Ismail Mukadar. Konflik keuangan ini membuat Arif Affandi berada di posisi yang cukup mengenaskan karena tuntutan dari klub internal Persebaya oleh Cholid Ghoromah dan Bonek yg saat itu dimobilisasi oleh YSS (Yayasan Suporter Surabaya).

Di akhir kompetisi Persebaya hanya berada di urutan 14 yang megakibatkan gagal lolos ke Superliga, sehingga tuntutan agar Arif Affandi mundur pun semakin ramai hingga di musim 2007-2008 Arif Affandi secara resmi mengundurkan diri dan digantikan oleh Saleh Ismail Mukadar yg pada saat itu telah habis masa hukumannya

Di era ketua umum Saleh Mukadar Persebaya berhasil lolos ke Superliga di musim 2009 setelah di akhir musim 2008-2009 melalui proses play-off di Bandung melawan PSMS Medan. Di awal kompetisi atas anjuran FIFA bahwa semua tim professional harus berbadan hukum Persebaya pun bertransformasi menjadi klub “professional” dengan melegalkan diri di depan notaris membentuk PT Persebaya Indonesia dengan komposisi saham 50% Saleh Mukadar 30%, Wakil Ketua Cholid Ghoromah dan 20% klub Internal Persebaya yang diatasnamakan Suprastowo.

Di akhir musim 2010 Persebaya terdegradasi ke divisi utama setelah serangkaian kekalahan dan perbedaan jumlah gol yg sangat tipis dengan tim Pelita Jaya milik wakil ketua umum PSSI Nirwan Bakrie. Setelah proses tanding ulang hingga 4 kali dengan Persik Kediri dipastikan Persebaya turun kasta kembali ke Divisi Utama, yg berkibat timbulnya resistensi hebat dari Bonek pendukung persebaya dan management Persebaya.

Persebaya bersama 3 tim lainya antara lain Persema, Persibo, dan PSM Makassar memutuskan untuk pindah Ke Liga Premier Indonesia, sebuah breakaway league sebagai bentuk perlawanan atas pengaturan pertandingan yang dikomandoi oleh PSSI. (bersambung)

(AM/GM/UAM)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments