MEDIASEPAKBOLA.co
Don't miss

FC Porto, Klub Efisien dalam Transfer Pemain

porto

Awalnya ketika manajer Chelsea, Jose Mourinho mencibir gaji tinggi yang diberikan klub Portugal, FC Porto kepada penjaga gawang Iker Casillas, saya pun tak dapat menyanggahnya begitu saja. Apalagi jika mengingat FC Porto adalah klub sepak bola dari negara yang bukan tergolong kaya di Eropa, Portugal.

Industri sepak bola Portugal tidak se-glamour negara-negara utama sepak bola Eropa. Sulit bagi Porto sebagai brand sepak bola untuk menyejajarkan diri secara konsisten dengan klub-klub terbaik Eropa, kemudian menjadi klub top dunia yang memiliki reputasi global.

Industri sepak bola disana (Portugal-red) tak memungkinkan klub-klubnya mendapat hak siar televisi yang melimpah seperti yang terjadi di Inggris dan Spanyol. Total hak siar yang diterima klub-klub Portugal seakan tak ada apa-apanya jika dibandingkan kedua klub Spanyol, Barcelona dan Real Madrid yang selama beberapa tahun belakangan seolah ‘memonopoli’ kue penjualan hak siar di sana. Diluar hak siar masih terdapat unsur pendapatan komersial lain seperti tiket pertandingan, merchandise, sponsorship, dan lain sebagainya.

FC Porto bukanlah klub yang memiliki profil sebagai tim terkaya di Eropa menurut Deloitte. Penghasilan mereka pada musim 2013-14 lalu jauh dibawah Real Madrid yang membukukan 549,5 juta euro dan duduk di posisi pertama. Bahkan mereka tak ada di posisi ke-20 yang ditempati klub semenjana (jika boleh menyebutnya demikian) seperti Everton.

Lantas bagaimana mereka dapat mengontrak dua tahun dengan bayaran 2,5 juta euro per musim untuk legenda sekaliber Casillas. Pun demikian dengan transfer sebesar 20 juta euro yang dilayangkan Porto untuk mendatangkan Giannelli Imbulla dari Marseille. Sampai-sampai Mourinho ikut berkomentar pedas karenanya.

“I cannot believe that Porto have paid €20m for Imbula and are paying Casillas an incredible salary,” kata Mourinho kepada The Guardian. “This kind of spending breaks all rules.”, tambahnya.

Sejak dekade silam, klub yang bermarkas di Estadio de Dragao dikenal sebagai salah klub yang efisien dalam hal transfer pemain. Mereka (FC Porto-red) telah menghasilkan surplus ratusan juta euro dari penjualan pemain-pemain topnya. Untuk mencapai hal tersebut tidak sekedar berharap keberuntungan dari pembelian pemain murah dan menjualnya dengan harga tinggi. Ada serangkaian strategi dan kebijakan fantastis yang telah mereka rancang dan berhasil dengan baik.

Berbagai faktor pendukung turut mengiringi langkah kesuksesan FC Porto dalam hal transfer pemain. Mereka lihai dalam mencari bakat hingga berbagai wilayah Amerika Selatan. Tak hanya terpaku kepada bakat dari Brazil semata (yang memiliki kedekatan kultur historis), namun merambah hingga Argentina dan Kolombia.

“We have become a stepping stone for talent from several South American countries, not just from Brazil but also Colombia and Argentina,” kata petinggi Liga Portugal, Mario Figueiredo.

Coba lihatlah apa yang terjadi dengan kedua pemain Kolombia yang pernah dimiliki Porto (Radamel Falcao dan James Rodriguez). Kedua pemain tersebut dilepas dengan seharga 85 juta euro. Berbanding dengan kocek senilai 19,05 juta euro tatkala mereka membeli dari klub asalnya masing-masing.

FC Porto tak alergi terhadap pencarian bakat dari negeri sendiri. Meski akademi Porto tak sementereng Sporting Lisbon yang telah menghasilkan megabintang sekelas Cristiano Ronaldo dan Luis Figo, mereka (FC Porto-red) telah mendapatkan pemain belakang hebat sekaliber Ricardo Carvalho, Bruno Alves dan Jorge Andrade.

FC Porto juga merekrut pemain dari klub Primeira Liga lain seperti Vitória Guimarães, CS Marítimo FC Paços de Ferreira dan Estoril sebagai salah satu alternatif rekrutmen pemain dari negeri sendiri.

Transfer pemain FC Porto dengan nilai diatas 10 juta euro sejak 2003 hingga 2013. Source : eurosport

Faktor lain yang turut mendukung kebijakan transfer sensasional FC Porto adalah kontinuitas mereka dalam menemukan pengganti pemain hebat yang telah mereka jual sebelumnya.

Ketika FC Porto menjual Ricardo Carvalho ke Chelsea pada 2004 silam, mereka membeli Pepe dari CS Maritimo untuk menggantikannya. Demikian halnya ketika Pepe dijual ke Real Madrid pada tahun 2007 lalu, klub bernama lengkap Futebol Clube do Porto tersebut masih memiliki Bruno Alves yang sempat menimba pengalaman dengan dipinjamkan ke beberapa klub sebelumnya.

Hanya 2 juta euro yang dikeluarkan Porto untuk merekrut ketiga pemain tersebut. Hanya beberapa tahun mereka memperkuat klub sebelum dilepas dengan nilai kumulatif mencapai 82 juta euro (Ricardo Carvalho dan Pepe dijual dengan harga masing-masing 30 juta euro, sedangkan Bruno Alves seharga 22 juta euro ketika hijrah ke klub Rusia, Zenit St Petersburg pada 2010 lalu).

FC Porto tak hanya menjual pemain secara individu. Beberapa kali mereka terlibat dalam aktifitas transfer pemain dengan menjual paketan beberapa pemain sekaligus.

Ricardo Carvalho misalnya, ia dijual ke Chelsea selepas Porto menjuarai Liga Champions pada tahun 2004 silam seharga 30 juta euro. Bersamanya turut pula gerbong kepindahan pemain ke klub asal London tersebut seperti Deco (21 juta euro) dan Paulo Ferreira (20 juta euro).

Pun demikian pula dengan kepindahan Maniche, Costinha, dan Giourkas Seitaridis ke Dynamo Moscow pada Mei 2005 silam, maupun James Rodríguez dan João Moutinho ke AS Monaco dua tahun lalu.

Salah satu keystone FC Porto dalam rekrutmen pemain adalah mencari pemain muda dan berbakat dibawah usia 24 tahun. Selain bertujuan ekonomis dari peningkatan harga jual pemain kedepan, keuntungan lainnya adalah kesempatan mengembangkan para pemain ini dengan maksimal sesuai filosofi klub.

Tentu saja Porto tak sembarangan dalam membidik pemain muda. Mereka memiliki standar tinggi terhadap pemain yang layak membela klub asal kota Porto tersebut. Sebab, kepada merekalah masa depan klub ini dipertaruhkan untuk berprestasi di kompetisi domestik dan melangkah sejauh mungkin di Liga Champions.

Meski demikian mereka tetap menjaga kualitas tim untuk kompetitif dengan memprioritaskan keikutsertaannya dalam kualifikasi Liga Champions (peringkat 1 dan 2 Primeira Liga Portugal lolos ke babak grup Liga Champions serta berkesempatan meraih puluhan juta euro dari prize money, tiket, dan pundi-pundi lainnya ketika mengikuti kejuaraan ini).

Selain kebijakan manajemen, kesuksesan FC Porto dalam jual beli pemain tak lepas dari peraturan perizinan kerja yang dikeluarkan oleh pemerintah Portugal. Berbeda dengan Inggris, tak diperlukan syarat yang rumit agar pemain non-Eropa dapat bermain di Portugal (di Inggris hanya pemain non Eropa yang telah mengikuti sedikitnya 75% pertandingan kompetitif yang diikuti tim nasionalnya dalam waktu 2 tahun, serta memiliki ranking FIFA diatas 70 dalam kurun waktu yang sama).

Hal ini membuat Liga Primeira Portugal serasa surga bagi pemain asal Amerika Selatan. Mereka memiliki sarana untuk menyalurkan bakat dan keahliannya lewat liga yang cukup kompetitif.

‘even though Porto cannot afford to pay very high wages, they still have much to offer South American players. Not only is Porto itself a very successful club, their regular participation in the Champions League provides a perfect platform for emerging talents to display their wares. Moreover, players can easily obtain work permits and embark on the path towards a EU passport, which makes them a more attractive prospect to clubs in countries with more restrictive regulations [like England]. Finally, Brazilian players do not have to struggle with any language issues.’ kata Swiss Ramble, blogger.

Kualifikasi Liga Champions turut menjaga kelanggengan Porto dalam kebijakan transfernya. Swiss Ramble mengatakan ‘the Champions League money has been so important to Porto’s finances over the last few years. This is most evident in 2004, the year when they won the tournament and received €25 million, which was almost 40% of their turnover that year, but even this year when the revenue was down to €12 million, that was still worth 20% of their income – and that excludes gate receipts and sponsorship increments.‘

Tanpa mengikuti Liga Champions, akan membuat FC Porto berjuang keras untuk mendapatkan pemasukan fantastis. Jika terjadi demikian kita dapat melihat ‘permainan keuangan’ ketika Porto tak dapat mengikuti kejuaraan tersebut. Misalnya menjual persentase kepemilikan pemain kepada pihak ketiga (private companies). Tujuannya mendapatkan sejumlah dana dan menjaga pemain tetap bersama klub.

Swiss Ramble menekankan hal ini, “In April 2005, Porto bought 50% of the sporting rights of Lisandro Lopez (from Racing Club) and Lucho Gonzalez (from River Plate) with the remaining 50% only acquired in season 2007/08. Clearly, this type of deal is a double-edged sword, as it means that any future profits are shared proportionally with the agency, but it does reduce Porto’s initial outlay and de-risks their activities in the transfer market”.

Yang menakjubkan dari FC Porto, meski banyak menjual pemain-pemain penting mereka masih dapat berprestasi di kejuaraan domestik dan internasional. Sejak 15 tahun terakhir, klub yang berdiri pada 28 September 1893 tersebut sedikitnya telah meraih 9 gelar Primeira Liga, 6 Portuguese Cup, 9 Portuguese Super Cup, 2 Europe League, dan sekali meraih titel Liga Champions.

Ditengah bayang-bayang krisis ekonomi yang membayangi Eropa, Porto diprediksi akan terus menjadi tim besar. Mereka memiliki filosofi brilian, tidak sekadar menjadi tim yang membeli pemain secara murah dan menjualnya dengan harga berlipat untuk meraih profit tinggi, namun mampu bersaing meraih prestasi.

Secuil Kegagalan Diantara Keberhasilan
Meski meraih banyak kesuksesan dari penjualan pemain topnya. Beberapa kali Porto pernah ‘tersandung’ ketika ‘membuang’ pemain dengan harga murah. Fatalnya pemain-pemain tersebut justru bersinar di klub-klub lainnya dan bernilai mahal ketika dijual kembali.

Eks striker Timnas Brasil, Luis Fabiano direkrut dari Sao Paulo seharga 1,875 juta euro setelah mencetak 53 gol dalam 65 pertandingan Serie A Brasil pada 2002-2004 lalu. FC Porto hanya membeli 25% dari hak pemain asal Campinas tersebut. Sisanya dibeli oleh Global Soccer Investments (kemudian berganti nama menjadi Rio Football Services).

Di Porto ia gagal bersinar. Hanya mencetak 3 gol dari 27 pertandingan di seluruh kompetisi pada musim perdananya. Setahun berikutnya, ia ditransfer ke Sevilla yang membeli hak 25% atas dirinya (kemudian membeli share kepemilikan 10% lainnya dari Rio Football Services seharga 1.2 juta euro, dengan 65% sisa lainnya dapat dibeli dengan harga 7,15 juta euro.

Menilik performa dan prestasinya bersama Sevilla di kemudian hari. Luis Fabiano pantas bernilai mahal diatas harga pasar saat itu.

Kisah yang sama terjadi pada Diego Ribas. Direkrut pada tahun 2004 untuk menggantikan Deco yang hijrah ke Chelsea. Di musim keduanya (2005-06) ia gagal menampilkan permainan yang stabil sehingga membuat pelatih Porto saat itu, Co Andriaanse menjualnya ke Werder Bremen seharga 6 juta euro.Tiga tahun berikutnya, Werder Bremen menjual Diego ke Juventus seharga 24,5 juta euro.

Selain Luis Fabiano dan Diego Ribas, kompatriot mereka di Timnas Brasil, Thiago Silva memiliki kisah yang relatif sama. Centre back Paris Saint-Germain tersebut dibeli FC Porto seharga 2,5 juta euro pada tahun 2004 lalu untuk bermain bersama tim reserve.

Setahun berikutnya ia pindah ke klub Dynamo Moskow, dimana sempat mendapat serangan penyakit TBC yang hampir merenggut kariernya. Setelah kembali ke Brasil dan bermain bersama Fluminense ia tampil memukau yang membuatnya ditarik AC Milan seharga 10 juta euro pada tahun 2008.

Bersama klub peraih 7 gelar Liga Champions tersebut, prestasinya semakin moncer. Ia membentuk barisan kukuh bersama Alessandro Nesta dan berperan memberi gelar scudetto 2010-11 kepada klub pujaan Milanisti. Pada musim panas 2012, ia dijual ke klub PSG seharga 42 juta euro dan membuatnya sebagai salah satu pemain bertahan termahal sepanjang sejarah.
(Oke Suko Raharjo)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments