MEDIASEPAKBOLA.co
Don't miss

Saatnya Berpikir Jernih untuk Sepakbola Nasional

orasi bonek

Sampai Kapan Masalahnya Tetap Sama?

Sama seperti malam-malam sebelumnya, malam kemarin diiringi gerimis rintik membuat suasana malam menjadi lebih dingin. Namun ada dua hal yang beda: Pertama, karena suasana dingin itu mampu menghapus aroma panas yang terpancar sejak pagi di Surabaya. Kedua, karena bapak-bapak yang saya temui ini. Bapak tua yang seharusnya menikmati hari tua dengan tenang, tetapi ingatannya menggambarkan sesuatu yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

“Seandainya PSSI tak berkongres di Surabaya, mau jadi apa bola kita? Babi-babi suap itu tak akan terbongkar!” serunya. Saya kaget, dan sejurus kemudian malah saya terlibat pembicaraan serius dengan bapak ini di sebuah warung kopi di ujung Kota Surabaya. Tampaknya bapak ini begitu memahami potret sepakbola nasional kita, yang penuh intrik, suap, pengaturan skor, dan kejadian-kejadian ganjil lainnya.

Memang benar dalam perspektif saya, diadakannya Kongres PSSI di Surabaya itu sama seperti ikan menuju ke daratan. Dan ada dua kemungkinan: survive atau mati. Intinya, PSSI gambling.

Mengapa gambling? Gampang saja. Surabaya terkenal dengan masyarakat mayoritasnya yang kukuh dengan klubnya walau tak lagi berlaga. Tujuan utama mereka cuma satu: mengembalikan Persebaya Surabaya (1927). Lainnya tujuan pendukung, termasuk menolak Kongres PSSI. Terlebih dengan adanya insiden malam sebelumnya yang menimpa Komisaris Utama PT Persebaya Indonesia di sebuah acara live tivi. Walaupun hasil kongres sudah diketahui jauh-jauh hari, agaknya situasi panas luar dalam siang itu di Embong Malang menjadi hal yang menarik.

BANDAR JUDI

Sepakbola nasional kita ini jauh dari harapan dan glamornya berita-berita di televisi. Adanya bandar judi yang masuk ke dalam pertandingan sudah menjadi hal yang wajar di pertandingan-pertandingan yang tak tersorot kamera live. Bandar tak melulu menentukan hasil pertandingan. Bahkan, dari pengalaman saya di klub sepakbola, bandar dapat pula mengatur skor setengah babak, ataupun pencetak gol pertama. Tergantung pasar dan selera pesanan.

Bicara soal bandar, tentu tak akan jauh dengan kata suap. Suap menjadi hal yang wajib ketika bandar mulai bermain di salah satu pertandingan tertentu. Tanpa suap, mustahil permainan berjalan sesuai rencana bandar. Beberapa dari kita yang mengetahui bahwa pertandingan sudah ter-setting tentu dapat dengan mudah mengetahui pemain mana yang disuap. Tetapi seperti yang sudah-sudah, tak pernah ada bukti untuk mengusut kasus ini hingga tuntas. Beberapa pihak terkesan menutupi yang lainnya.

Contoh lain: adanya sepakbola gajah antara PSS dan PSIS juga merupakan salah satu potret buram. PSS dan PSIS harus saling mengalah untuk menghindari klub tertentu. Apa ada yang salah dengan klub tersebut? Dari data yang saya baca, klub tersebut adalah raja penalti dan tim yang bertanding susah untuk menang menghadapi klub itu. Wow!

Contoh lain lagi: Tim saya Persema yang bermain agresif di awal babak pertama, secara tiba-tiba kalah 0-5 dengan Semen Padang di kandang. Permainan menjadi aneh karena terlihat sekali ada satu dua pemain yang seperti ‘tak niat’ bermain. Namun, adanya praktik-praktik kotor semacam ini hingga sekarang tak pernah ada buktinya.

Jadi, walaupun di tivi terlihat glamor, ada transfer pemain, ada ini itu, buat saya cukuplah sudah. Sudah terlalu banyak dosa sepakbola Indonesia. Sudah terlalu jauh sportivitas tergadai hanya karena rupiah yang dimainkan berjamaah oleh para bandar judi dan oknum pemain kita.

MATI TAK GAJIAN

Dosa-dosa PSSI yang pengurusnya itu-itu saja akan bertambah jika masih ada klub yang menunggak gaji pemain hingga ada lagi pemain yang mati tak terobati akibat tak dibayarnya gaji. Ini miris. Mengapa di balik glamornya tirai pemberitaan tentang sepakbola kita, justru di baliknya ada hal-hal semacam ini?

Diego Mendieta adalah satu dari beberapa contoh pemain asing yang mengakhiri hidupnya di Indonesia. Bahkan, Diego tak punya uang untuk berobat. Dan celakanya bukan hanya Diego. Banyak sekali pemain asal Afrika yang hingga kini terlunta-lunta hidupnya dan hidup bersama di kamar kos yang sempit, dan terpaksa main tarkam sana-sini hanya untuk makan. Banyak pemain tua yang tak jelas hidupnya di Indonesia. Banyak pula pemain yang kurang beruntung, yang tak terpakai di musim kompetisi ini, harus berjuang agar setidaknya dapat makan sehari-hari. Mereka bahkan tak memikirkan keluarga mereka hanya demi untuk makan di hari esok.

Sebetulnya, mengapa bisa terjadi tim tidak gajian berbulan-bulan? Dari perspektif saya, ini terjadi karena mental pengurus klub. Mental yang belum siap maju. Dari sekian banyak kasus yang terjadi, rata-rata klub terlalu berani mengontrak pemain dengan nilai kontrak yang besar dan gaji tinggi hanya demi menarik minat penonton ke stadion. Bahkan, tak jarang klub berhutang untuk mendapatkan pemain tersebut. Harapannya selain penonton juga dapat memasukkan sponsor sebanyak-banyaknya ke klub itu. Namun, kenyataannya berbeda. Main tak kompak sehingga stadion sepi. Sponsor yang menunggu perkembangan harus angkat koper karena tak sesuai ekspektasi. Dan ini nyata. Benar-benar terjadi…

OPTIMIS

Namun tak elok rasanya jika kita harus kembali menoleh ke belakang. Proses pembekuan kepengurusan PSSI oleh Kemenpora haruslah disertai dengan perasaan bijak. Kita harus menyediakan tempat di hati kita bahwa ini hanyalah sebuah proses. Proses untuk melihat sepakbola nasional yang lebih baik. Sudah cukup kita mendengar bandar judi yang bermain, pertandingan yang diatur skornya, berbulan-bulan tak gajian, atau apalah itu. Masyarakat sudah bisa menilai lebih baik.

Turun atau tidaknya sanksi FIFA, haruslah dicermati dengan arif dan bijaksana. Sudah terlalu lama PSSI miskin prestasi. Prestasi terbaik kita yang terdekat hanya pada 1986 dimana timnas kita hampir masuk Piala Dunia kalau tidak dikalahkan Korsel ketika itu. Apapun yang diputuskan, pastilah ada hikmah di balik semuanya. Apa kita tidak bosan dengar masalah yang dilakukan PSSI – dengan orang yang itu-itu saja – dengan masalah yang itu-itu saja dan tak pernah terselesaikan?

Sejatinya, alangkah besar dahaga publik sepakbola nasional mengikuti perkembangan terakhir ini. Harapan yang bangkit, yang mayoritas dari yang saya perhatikan di media sosial Facebook dan Twitter sudah muak dengan yang dilakukan PSSI selama 5 tahun terakhir yang tanpa prestasi. Harapan yang terus digaungkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan bermain di Piala Dunia beneran. Harapan yang entah sampai kapan akan digantung, walaupun sekecil biji sawi, namun tak ada yang tak mungkin. Dengan kepala dingin dan hati yang legowo, jika semua bekerja keras, potensi itu akan jadi kenyataan. Dan tak terasa malam telah larut, bapak tua di hadapan saya – yang bercerita panjang lebar itupun mohon diri menutup perbincangan dengan saya di malam yang semakin dingin itu…

Vecga Septian Pravangasta

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *