MEDIASEPAKBOLA.co

Mereka yang Bersinar dan Bangkit Melawan Mitos

aji

Sebelum dikenal sebagai salah satu tim elit tanah air, sejak lama Arema dikenal sebagai kawah candradimuka para pemain sepakbola di Indonesia. Mereka (para pemain) silih berganti datang dan pergi membela panji-panji Singo Edan.

Sejak berdiri pada 11 Agustus 1987 lalu, ratusan pemain telah berkarir di klub pujaan Aremania tersebut. Sebagian diantara mereka berhasil mengantarkan Singo Edan meraih prestasi dalam berbagai ajang kejuaraan sepakbola nasional.

Tak sedikit pula punggawa Singo Edan yang meraih prestasi individual ketika memperkuat klub yang saat ini bermarkas di Stadion Kanjuruhan. Singgih Pitono dan Mecky Tata merupakan dua pemain Arema yang pernah meraih gelar top skor kompetisi. Selain mereka, ada juga Kurnia Meiga yang pernah mendapat predikat pemain terbaik Indonesia Super League 2009/10 lalu.

Selain bersinar di kompetisi, Arema juga menyumbangkan beberapa pemainnya untuk memperkuat Tim Nasional PSSI. Aji Santoso merupakan salah satu pemain generasi awal yang sukses menembus persaingan Timnas Indonesia tersebut. Prestasi terbaiknya adalah mempersembahkan medali emas SEA Games 1991 lalu.

Namun dibalik kesuksesan para punggawa Arema terdahulu, mencuat mitos negatif. Sudah jamak menjadi rahasia para suporter, para pemain yang sukses ketika membela Arema justru tenggelam namanya ketika telah meninggalkan Singo Edan.

Meski demikian mitos tidak selamanya benar terjadi. Paling tidak terdapat beberapa mantan punggawa Arema yang justru berhasil mereguk kesuksesan ketika tak lagi bersama klub ini. Beberapa pemain tersebut antara lain :

1. Aji Santoso
Pemain kelahiran Kepanjen, 6 April 1970 memiliki karir yang gemilang selama memperkuat tim Singo Edan. Kontribusinya sebagai wingback kiri seolah tak tergantikan. Bersama Jonathan (kiri luar) ia mengeksplorasi sisi kiri barisan penyerang Arema.

Sejak bergabung pada musim 1988 lalu, ia turut membawa Arema ke posisi elit Galatama. Klub berzodiak Leo tersebut dibawanya menjuarai Galatama 1992-93 dan 12 Besar Piala Champions Asia 1993-94. Selain itu Aji turut mengantarkan Arema sebagai runner up Piala Galatama 1992 sebelum dikalahkan Semen Padang dengan skor 1-0.

Kepindahannya ke Persebaya selepas Liga Indonesia I 1994-95 sempat menyisakan polemik. Sebagai pemain asli Malang, penggemar Arema tak rela Aji pindah ke klub rival. Apa daya tawaran gaji yang lebih baik menjadi salah satu faktor ia harus meninggalkan Arema dengan mekanisme transfer yang disebut-sebut mencapai Rp 50juta.

Awal karir Aji bersama Persebaya tidaklah berjalan mulus. Di musim pertamanya tim berjuluk Bajul Ijo tersebut gagal lolos ke Babak 12 Besar Liga Indonesia 1995-96. Padahal di masa itu Persebaya diperkuat kuartet Eropa Timur, Antonic Dejan, Nadoveza Branko, Plamen Iliev Kazakov, dan Nedyo Ivanov Nedev.

Namun Tuhan seolah memberikan roda nasib yang berbeda semusim berikutnya. Persebaya yang dipimpin mantan walikota Surabaya alm. Sunarto Sumaprawiro melakukan perombakan besar-besaran. Dengan dukungan dana APBD yang besar, Tim berjuluk Green Force memulai persiapan kompetisi dengan merekrut pemain bintang diantaranya Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello dan para pemain muda seperti Uston Nawawi, Bejo Segiantoro dan Anang Ma’ruf.

Tim asuhan Rusdy Bahalwan tersebut bak the dream team di Liga Indonesia 1996-97. Persebaya menjuarai kompetisi setelah mengalahkan Bandung Raya 3-1 pada final yang berlangsung di Gelora Bung Karno, 28 Juli 1997. Selain menjadi juara liga 1996-97, Aji juga mengantarkan Persebaya sebagai runner up Liga Indonesia 1998-99.

Menjelang Liga Indonesia 1999-2000, Aji meninggalkan Persebaya dan bergabung dengan PSM Makassar. Di klub berjuluk Juku Eja tersebut ia menikmati masa keemasannya dengan menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia VI. Ia menjadi bagian tim mega bintang bersama Hendro Kartiko, Ortisan Salossa, Carlos de Mello, Bima Sakti, Miro Baldo Bento dan Kurniawan D.J. Selepas bermain bersama PSM, Aji balik kampung memperkuat Persema (2001) dan Arema (2002-2004/pensiun).

Tak hanya berprestasi sebagai pemain, Aji Santoso juga memiliki nama baik dalam dunia kepelatihan sepakbola nasional. Ia membawa tim PON Jatim meraih medali emas PON 2008 di Kalimantan Timur. Selain pada tahun 2008 tersebut ia membawa tim POM ASEAN meraih medali perunggu di Kuala Lumpur.

Biodata Aji Santoso
Karir Pemain
1988-1995 : Arema Malang
1995-1999 : Persebaya Surabaya
1999-2000 : PSM Makassar
2001 : Persema Malang
2002-2004 : Arema Malang
1990-1999 : Timnas Indonesia

Karir pelatih:
2005 : PSSI U-17
2006 : Persiko Kota Baru
2006 : Pra PON Jatim
2007 : POMNAS Jatim
2007 : Persekam Metro FC
2008 : PON jatim
2008 : POM ASEAN
2009 : Persik kediri
2009 : Persebaya Surabaya (play off promosi/degrarasi)
2009-2010 : Persisam Putra Samarinda
2010 : Persema Malang
2010-2011 :Persebaya Surabaya 1927 ( Kompetisi LPI)
2012 : Timnas Indonesia U-22
2013- : Timnas Indonesia U-23

2. Firman Utina
Kehadiran Firman Utina di tubuh Arema seolah tak lepas dari keberadaan Benny Dollo, pelatih yang memoles pemain bertinggi 1,65 meter tersebut ketika masih memperkuat Persma Manado (1999-00) dan Persita Tangerang (2000-04).

Alasan itu pula menjadi salah satu faktor berlabuhnya pemain yang identik dengan nomor punggung 15 tersebut bersama Arema. Meski hanya dua musim memperkuat Singo Edan, pemain kelahiran 15 Desember 1981 tersebut telah menorehkan tinta emas bersama klub pujaan Aremania itu.

Selama dua musim Firman berhasil mengantarkan Arema sebagai juara Copa Indonesia dua kali beruntun. Pada perhelatan puncak Copa Indonesia 2005 Firman berhasil meraih predikat pemain terbaik dan berhak menyandang hadiah mobil Suzuki MPV. Selain mengantar kesuksesan Arema di Copa Indonesia, Firman juga membawa Singo Edan menapak tangga Babak 8 Besar Liga Indonesia.

Firman Utina meninggalkan Arema selepas berakhirnya Copa Indonesia 2006. Ia mengikuti jejak Benny Dollo untuk kembali bergabung bersama Persita selama semusim. Pada Liga Indonesia 2007-08 Persita menjadi salah satu tim yang lolos ke Indonesia Super League 2008-09. Setelahnya ia meninggalkan klub berjuluk Pendekar Cisadane dan berturut-turut bergabung dengan Pelita Jaya (2008-10) dan Persija Jakarta (2010).

Di kedua klub tersebut karirnya tak semoncer ketika memperkuat Arema dan Persita. Bintang Firman baru kembali cemerlang ketika ia pindah dan memperkuat Sriwijaya FC serta Persib Bandung.

Di Sriwijaya FC, Firman berhasil mempersembahkan gelar juara Indonesia Super League (ISL) 2012 dan Community Shield 2010. Sementara di tim Persib, Firman menjadi pemain andalan klub Maung Bandung tersebut untuk meraih mahkota ISL 2014 lalu.

Selaras dengan perjuangan di klub, kiprah Firman Utina di Timnas Indonesia cukup panjang. Ia pernah memperkuat Timnas Indonesia pada kelompok umur U-18 pada tahun 1998 lalu. Pada tahun 2001 Firman ditarik oleh Benny Dollo untuk memperkuat Timnas Indonesia U-23 untuk berkompetisi di ajang SEA Games 2001. Pada event multisport tersebut kiprah Timnas U-23 terhenti di babak semifinal dan gagal meraih medali perunggu pada perebutan tempat ketiga, 15 September 2001.

Urung berprestasi di Timnas U-23 tak menyurutkan peruntungan Firman Utina. Setelah SEA Games 2001, beberapa kali ia mendapatkan kesempatan untuk memperkuat Timnas Indonesia di berbagai event.

Firman menjadi bagian dari skuat Indonesia di ajang AFC Asian Cup 2007 dan AFF Championship (2004, 2008, 2010 dan 2014). Pada AFF Championship 2010, Firman meraih predikat sebagai Most Valuable Player (MVP) serta mengantarkan Timnas Garuda sebagai runner up.

Selain berkiprah di ajang resmi, Firman Utina juga pernah mempersembahkan gelar Piala Kemerdekaan 2008 setelah mengalahkan Libya (WO). Pemain asal Manado tersebut juga memperkuat Timnas Garuda yang meraih juara kedua di Grand Royal Challenge Cup 2008 di Myanmar.

Biodata Firman Utina
Karir Pemain
1999-2000 : Persma Manado
2000-2004 : Persita Tangerang
2005-2006 : Arema Malang
2007-2008 : Persita Tangerang
2008-2009 : Pelita Jaya
2009-2010 : Persija Jakarta
2010-2012 : Sriwijaya FC
2012- : Persib Bandung
2001- : Timnas Indonesia

3. Achmad Jufriyanto
Kehilangan beberapa punggawa penting membuat Arema harus bergerak cepat menambalnya jelang kompetisi Indonesia Super League 2008-09. Achmad Jufriyanto didatangkan manajemen Arema sebagai bagian dari proyeksi jangka panjang klub berjuluk Singo Edan tersebut.

Selain Achmad, Arema juga mendatangkan eks pemain Timnas U-23 yang pernah berguru ke Belanda dibawah asuhan Foppe de Haan seperti Zulkifli Syukur, Fandy Mochtar, Ahmad Bustomi, dan Hendra Ridwan.

Kiprah singkatnya di Arema tak berjalan mulus. Meski sempat menapaki tangga capolista di awal kompetisi. Posisi Arema merosot pasca pertandingan home tragis melawan PKT, 13 September 2008. Pada ISL 2008-09 tersebut Arema duduk di peringkat 10.

Di Arema, Achmad Jufriyanto hanya memperkuat klub berjuluk Singo Edan tersebut selama semusim. Selanjutnya ia berturut-turut memperkuat Pelita Jaya (2009-10). Sriwijaya FC (2010-13) dan Persib Bandung (2013-sekarang). Prestasi terbaiknya didapat setelah memperkuat kedua klub yang disebut terakhir tersebut.

Ketika memperkuat Sriwijaya FC, Achmad Jufriyanto berhasil meraih gelar Inter Island Cup (2010 dan 2012) serta Community Shield 2010. Selain itu pemain kelahiran 7 Februari 1987 tersebut turut mengantarkan Laskar Wong Kito menjuarai Indonesia Super League pertama kalinya pada tahun 2012 tersebut.

Tiga musim memperkuat Sriwijaya FC dirasa cukup bagi Achmad Jufriyanto. Pemain bertahan asal Tangerang tersebut memutuskan hijrah ke Bandung untuk bergabung dengan Persib. Di klub berjuluk Maung Bandung, ia sukses merengkuh gelar Indonesia Super League kedua kali sepanjang karirnya pada musim lalu.

Pada Indonesia Super League 2014 tersebut, pemain bertinggi 1,82 meter tersebut tampil sebanyak 27 kali dan mengoleksi 2 gol untuk klub yang bermarkas di Stadion Si Jalak Harupat tersebut. Imbas dari penampilan gemilang musim lalu, Achmad Jufriyanto dipanggil memperkuat Timnas Indonesia untuk AFF Championship 2014 lalu. Sayang pada kejuaraan tersebut Indonesia gagal mentas dari kualifikasi grup.

Selama memperkuat Timnas Indonesia sejak tahun 2013 lalu, Achmad Jufriyanto sedikitnya memiliki caps 13 kali dan pernah membuat gol ke gawang Kyrgyzstan pada laga ujicoba di Gelora Bung Karno, 1 November 2013.

Biodata Achmad Jufriyanto
Karir Pemain
2005–2008 : Persita Tangerang
2008–2009 : Arema Malang
2009–2010 : Pelita Jaya
2010–2013 : Sriwijaya
2013– : Persib Bandung
2007-2009 : Timnas Indonesia U-23
2013 – : Timnas Indonesia

4. Charis Yulianto
Charis Yulianto merupakan salah satu pemain Timnas PSSI Baretti (1995-96) bersama Elli Aiboy, Uston Nawawi, Imran Nahumarury dan Nova Arianto. Setelah proyek PSSI Baretti selesai, ia direkrut manajemen Arema yang dilatih oleh Suharno pada saat itu.

Dibawah asuhan Suharno, Charis menempati posisi pemain belakang bersama Pujo Sumedi, Sunardi C., Rudy Hariantoko dan legiun asing asal Chile, Juan Rubio. Di musim pertamanya bersama Arema prestasi Charis cukup lumayan. Pemain kelahiran 11 Juli 1978 tersebut mampu meloloskan tim berjuluk Singo Edan ke tangga 12 besar di Makassar.

Gagal di Babak 12 Besar Liga Indonesia 1996-97 tak lantas membuat Charis patah arang. Bahkan ketika kompetisi sepakbola nasional terhenti setahun kemudian, Charis masih setia memperkuat Arema. Tak terkecuali ketika Arema kerap dilanda krisis finansial dan godaan tawaran bergabung dengan tim besar berdatangan kepadanya.

Didukung oleh Aremania, Charis menunjukkan loyalitasnya dengan penampilan gemilang bersama Singo Edan. Ia menjadi pilihan utama sebagai stopper oleh beberapa pelatih Arema sesudahnya, M. Basri dan Daniel Rukito. Berturut-turut dari Liga Indonesia VI – VIII (1999-2002) Arema dibawanya ke tangga Babak 8 Besar.

Sayang kiprah Arema selalu terhenti di babak tersebut. Selain faktor ‘keberuntungan’, Arema acap dihantui masalah keuangan yang tersebar sebelum tim berangkat melakoni Babak 8 Besar. Selepas perhelatan Liga Indonesia 2002, Charis mengakhiri peruntungannya bersama klub yang telah membesarkan namanya tersebut. Klub berikut yang dibelanya adalah PSM Makassar.

Selama dua musim memperkuat PSM Makassar, Charis berhasil mengantarkan tim Juku Eja tersebut ke tangga peringkat dua klasemen akhir Liga Indonesia 2003 dan 2004. Atas prestasinya tersebut ia mendapat ganjaran memperkuat Timnas Garuda di ajang AFF Championship 2004. Dibawah asuhan Peter Withe, Charis turut menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia yang meraih juara kedua pada kejuaraan tersebut.

Setelah membela PSM, Charis hijrah ke klub Persija. Di klub berjuluk Macan Kemayoran, pemain bertinggi 1,83 meter tersebut mendapatkan nomor punggung 5. Ia menjadi palang pintu andalan tim asuhan Arcan Iurie.

Sama halnya ketika memperkuat PSM, di Persija Charis hanya berhasil mengantarkan klub kelahiran 28 November 1928 tersebut sebagai runner up Divisi Utama Liga Indonesia 2005. Di babak final Persija dikalahkan oleh Persipura Jayapura 2-3 di Gelora Bung Karno, 25 September 2005.

‘Kegagalan’ serupa didapat Charis ketika Persija berhasil maju ke babak final Copa Indonesia 2005. Berlaga di Senayan, tim Macan Kemayoran dikalahkan oleh Arema, klub yang pernah dibela Charis selama bertahun-tahun. Di Persija Charis hanya memperkuat klub ibukota tersebut selama semusim.

Pasca meninggalkan Persija, Charis bergabung dengan Persib Bandung dan Selangor. Di kedua klub tersebut prestasi Charis menurun dengan gagalnya Persib menembus Babak 8 Besar Divisi utama Liga Indonesia 2006.

Kemilau bintang Charis kembali bersinar cerah ketika bergabung bersama Sriwijaya FC. Di musim pertamanya ia berhasil mengantarkan klub asal Palembang tersebut sebagai kampiun Divisi Utama 2007-08 setelah mengalahkan PSMS Medan 3-1 pada final yang digelar di Stadion Jalak Harupat, 10 Februari 2008.

Pada musim tersebut pula Sriwijaya FC dibawanya meraih double winner setelah di final Copa Indonesia 2008 berhasil menghempaskan Persipura Jayapura 3-1 di Gelora Bung Karno, 13 Januari 2008. Di ajang yang sama pula (Copa Indonesia) Charis berhasil mengantarkan Sriwijaya FC meraih three peat dengan menambah trophy pada dua musim berikutnya (2009 dan 2010).

Selepas membela Sriwijaya FC, Charis Yulianto mudik ke Jawa Timur dan memperkuat Persela Lamongan pada tahun 2010-11. Semusim berikutnya ia kembali ke klub yang pernah membesarkan namanya, Arema. Sayang, ia tak meraih gelar bersama Singo Edan. Meski demikian Arema masih dibawanya bertahan dari zona degradasi ISL 2011-12 lalu.

Karir Charis Yulianto di Timnas Indonesia berlangsung dari tahun 2004-2010. Selama 6 tahun memperkuat Timnas Garuda, Charis memperoleh 36 caps dan 2 gol. Kedua golnya didapat dari AFF Championship 2004 melawan Malaysia, 3 Januari 2005 dan Piala Kemerdekaan Indonesia 2008 melawan Kamboja, 21 Agustus 2008.

Selama berkiprah di Timnas PSSI, Charis merupakan bagian dari skuat Indonesia di ajang AFF Championship 2004 dan 2008, AFC Asian Cup 2007 dan Piala Kemerdekaan Indonesia 2008.

Biodata Charis Yulianto
Karir Pemain
1994 : PSBI Blitar
1995 : Persebaya Surabaya Junior
1995-1996 : PSSI Baretti
1996-2002 : Arema Malang
2002-2004 : PSM Makassar
2005 : Persija Jakarta
2006 : Persib Bandung
2007 : Selangor FA
2007-2010 : Sriwijaya FC
2010-2011 : Persela Lamongan
2011-2012 : Arema Indonesia (ISL)
2004-2010 : Timnas Indonesia

(Oke Suko Raharjo)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *