MEDIASEPAKBOLA.co

Membangun Timnas Yang Tangguh

latihan timnas u19

Mungkin kita masih sering terdengar pendapat di masyarakat yang mengatakan :

“Apa susahnya sih membangun timnas yang handal, karena kita sebenarnya punya modal penduduk yg banyak yaitu > 200 juta dan banyak yang gila bola”

Kita akan sangat mudah menemukan anak-anak kecil bermain bola di sekitar kita bahkan dengan menggunakan jalanan atau diatas sawah.

Kita hendaknya sejenak melupakan euforia prestasi di jaman dahulu, mulai dari keberhasilan menahan imbang tim Uni Soviet sampai dengan keberhasilan semu Timnas U-19.

Segeralah bangun dari kenangan pretasi masa lalu, karena kita saat ini dihadapkan kenyataan tentang hancurnya prestasi Timnas Indonesia baik di ajang Sea Games, Asian Games maupun AFF Cup.

Inilah 10 Langkah Membangun Timnas Indonesia yang Solid & Tangguh :

1. Bangun Pondasi

Kompetisi Junior adalah pondasi dasar timnas yg handal adalah pembangunan timnas junior yg baik mulai dari tehnik, pemahaman rule of the game dan strategy permainan.

Mental pemain junior masih dapat dibentuk agar tidak terbiasa/ terkontaminasi dengan iklim kompetisi senior yg cenderung kasar, menang dengan menghalalkan segala cara dan money oriented.

Kompetisi Yunior dapat dilakukan per masing-masing provinsi atau kota, dengan pengawasan langsung oleh pemandu bakat yang fair & profesional.

Kompetisi Junior dimulai dari Usia10 tahun (U.10) yg diteruskan dengan jenjang U.12, U 15, U.18

Kompetisi Amatir, Liga Div II, I, & Liga Super yg mewajibkan klub untuk memasukkan minimal 2 pemain junior untuk komposisi pemain inti dan 3 orang untuk pemain cadangan.

Kompetisi Yunior wajib didukung fasilitas yang memadai di setiap SSB baik dari segi sarana latihan serta pelatih yang handal, agar kesalahan dasar tehnik dan pemahaman strategy sepakbola tidak terjadi di level senior.

Lakukan sistem orangtua asuh, yaitu sponsorship bagi pemain yg berprestasi untuk berlatih di klub sepakbola luar negeri, dan formatnya tidak harus dilakukan untuk satu tim seperti proyek primavera, baretti dll.

2. Manajemen Kompetisi yang profesional

Manajemen Kompetisi yg profesional bebas dari kolusi wasit, & berpegang pada rule of the game sehingga dapat menimalkan kebiasaan buruk pemain untuk bertindak kasar & keras agar tidak merugikan timnas pada saat pertandingan resmi.

Manajemen Kompetisi wajib membuat jadwal yg teratur & selaras dengan latihan berkala timnas serta rencana try out timnas.

Lapangan pertandingan yg memadai agar dapat membantu latihan tehnik dengan baik dan minimalkan risiko cedera pemain timnas.

Kemasan kompetisi yg menarik untuk untuk setiap ajang liga junior sampai dengan senior, sehingga dana sponsorship dapat digunakan untuk menunjang dana operasional timnas.

3. Pembenahan mental juang pemain timnas

Pembenahan mental juang pemain timnas tentang fighting spirit, fair play & kebanggaan membela nama bangsa bukan sekedar money oriented .

Label pemain timnas akan meningkatkan harga jual pemain hanya apabila sang pemain dapat menunjukkan prestasi & fighting spirit yg baik di Timnas.

Perlu disadari bahwa mental bertanding dalam sebuah permainan sepakbola ibarat Rohnya Permainan

Dapat terjadi bahwa Tim dengan Mental Bertanding lebih baik walaupun kualitas seadanya, mampu menjungkalkan Tim bertabur bintang. (Yunani saat juara Piala Eropa 2004, Korsel yg lolos semifinal Piala Dunia 2002)

Menerapkan “Brainwave management” yaitu meningkatkan latihan setara dengan timnas negara pesaing seperti thailand, korea dan jepang.

Dengan konsep tersebut dengan sendirinya (diharapkan tanpa dikomando) pemain akan ditanamkan mental spirit bahwa dirinya harus sejajar dengan pemain timnas Thailand, Korea & Jepang, sehingga pemain akan berlatih lebih giat, spartan & menambah porsi latihan dengan kesadarannya sendiri. * konsep dari brainwave adalah membawa otak ke kondisi gelombang tertentu ,kondisi gelombang pikir pemain di bawah alam sadar untuk membimbing kearah mentalitas yg baik, penuh spirit & tangguh.

4. Latih tanding/ Uji coba berkala

Pihak BTN wajib meng-agendakan turnamen yang akan diikuti oleh timnas junior dan senior selama 1 tahun ke depan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan koordinasi melalui AFC, & FIFA untuk mengetahui bahkan menjalin lobi dengan pihak penyelenggara

Pihak BTN wajib meng-agendakan friendly game dengan timnas/ klub dari negara lain untuk mengasah dan memadukan koordinasi tim.

5. Sarana dan prasarana yg memadai untuk latihan timnas

PSSI sebagai otoritas tertinggi wajib membuat sarana dan prasarana yg memadai untuk latihan timnas mulai dari lapangan untuk latihan game, fitness center, kolam renang, jogging track, materi studio laboratorium untuk membahas taktik permainan timnas ternama dalam menganalisa taktik serangan, pertahanan, alur permainan, koordinasi antar pemain, gerak tanpa bola dll

6. Pemilihan Pelatih Timnas dan tim pendukung yang solid

Pemilihan Pelatih Timnas & tim yang solid, mulai dari Manajer Tim, asisten pelatih sampai dengan petugas yang mengurusi bidang administrasi & operasional.

Timnas Junior & senior wajib dibantu oleh tim pemandu bakat, didukung oleh system data base prestasi pemain (assit, gol, jam terbang, kartu kuning ) sampai dengan medical record (cedera, penyakit yang pernah diderita dll) mulai dari junior s/d senior

Bank database, kita bisa link dengan klub-klub besar dunia yg membutuhkan pemain-pemain muda berbakat.

Kita dapat membangun website untuk Kompetisi Junior & Senior, sehingga dapat diakses semua pihak. Data yang valid & kontinue sesuai dengan jalannya kompetisi, para talent scouter diharapkan akan berkunjung untuk memantau langsung.

Lengkapi tim dengan seorang psikolog atau motivator yang handal dalam membakar semangat pemain untuk dapat bermain all out, percaya diri & dapat mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.

Pilih semua anggota yang profesional di bidangnya dan mau mencurahkan waktu dan tenaga secara optimal untuk timnas.

7. Pemilihan waktu latihan rutin Timnas

Pemilihan waktu latihan rutin yang wajib dilakukan secara berkala minimal 3x dalam sebulan dengan menyesuaikan jadwal kompetisi.

Dalam latihan rutin tersebut pemain timnas wajib menjaga standar minimum kewajiban mulai fisik yaitu dengan Vo2Max tertentu (minimal 70 ml/kg/min adalah standar pemain Korsel), sehingga pada setiap latihan pelatih tidak terlalu dipusingkan oleh kondisi fisik pemain yg drop atau perlu ditingkatkan.

Pemahaman taktik strategy permainan wajib ditanamkan dengan baik pada setiap pemain, agar pada setiap latihan hal tersebut tidak perlu diulang kembali atau bahkan dilatih kembali secara mendasar.

Upaya menumbuhkan mental spirit bertanding pemain termasuk disiplin, wajib diterapkan sejak mulai pelatnas timnas, agar mentalitas tersebut tertanam dan mengakar kuat pada setiap pemain.

8. Dukungan Politik dan anggaran khusus dari Presiden

Dukungan politis, perhatian dan anggaran khusus dari Presiden atau pemerintah yang berkuasa agar program timnas tersebut dapat berjalan dengan baik

Dukungan tersebut sangat penting untuk koordinasi antar departemen di pemerintah dalam hal dukungan kepada timnas.

Dana yang diberikan oleh pemerintah wajib diawasi oleh KPK.

9. Perlu dibentuk organisasi suporter timnas

Perlu dibentuk wadah khusus organisasi suporter timnas yang dapat mendukung timnas secara nyata mulai dari latihan timnas, dukungan video pertandingan tim lawan, sumbang kritik dan saran.

Hal tersebut sejalan dengan upaya komersialisasi timnas demi mendukung dana pembinaan yg didapat dari hasil penjualan apparel resmi, photo bersama, & menjaring sponsorship khusus timnas.

10. Crass Programme :

Crash programme sifatnya hanya sementara saja bersamaan dengan program timnas yang terpadu sejak usia dini

Menitipkan beberapa pemain berbakat Usia 10 s/d 12 tahun di football academy baik ajax, barca, arsenal dll dengan konsep anak asuh yaitu di titipkan pada keluarga kedubes Indonesia yang terdekat.

Pemain lokal yang berbakat dan berguru di luar negeri dengan sendiri akan mendapat kesempatan untuk dipantau oleh talent scouter .

Maksud pengiriman pemain untuk berguru dapat di mengerti dengan logika bahwa keinginan BTN untuk melakukan ujicoba dengan timnas luar dan klub luar lebih mudah karena mereka tentunya akan memilih uji coba dengan timnas yang banyak dihuni pemain berkompetisi di eropa.

Hal tersebut sejalan bahwa apabila kita mengundang timnas luar dengan membayar match fee tertentu, pastinya mereka juga bermain tidak fight atau bahkan menurunkan tim kelas duanya.

Jumlah pemain yg akan dinaturalisasi sebaiknya maksimal 5 pemain, untuk meminimalkan risiko bahwa pemain hasil naturalisasi kurang memiliki semangat juang nasionalisme layaknya pemain lokal

Melakukan naturalisasi secara bertahap beberapa pemain asing di LSI yg berminat dengan standar fit & proper yg ketat mulai dari tehnik, usia dan mental bermain serta kebutuhan tim, untuk masalah hukum dan birokrasi legal, hal tsb harus berkoordinasi dgn menteri terkait untuk masalah dwi kewarganegaraan atau pindah kewarganegaraan.

Sumbang saran ini hanya sekedar analisa dan usaha mengurai benang kusut prestasi Timnas Indonesia yang saat ini jauh dari memuaskan.

Sumbang saran ini bukan bermaksud menggurui pihak manapun, karena penulis yakin masih banyak pengurus sepakbola Indonesia yang jauh lebih mengerti akan hal tersebut.

(Panji Kartiko)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *