MEDIASEPAKBOLA.co

Surat Terbuka dari Suporter PSIS untuk Hinca Panjaitan

IMG_20141030_153721

Salam sejahtera, untuk yang terhormat Bapak Hinca Panjaitan selaku ketua Komdis PSSI.

Semoga Bapak dan keluarga sehat selalu, senatiasa mendapat perlindungan serta kenikmatan dari Tuhan YME, Amin.

Pak Hinca, sebelumnya saya belum pernah menulis surat terbuka, namun terkait keputusan Bapak yang menghukum secara brutal tim kebanggaan saya PSIS Semarang dengan hukuman yang saya rasa kurang masuk akal, saya mencoba meluapkan aspirasi melalui surat ini.

Pak Hinca, saya tahu Bapak menyandang gelar MH (Magister Ilmu Hukum) yang pasti sudah paham betul seluk beluk hukum di Indonesia, tapi saya masih mencerna hukuman yang Anda berikan terhadap para pemain dan official PSIS Semarang, semacam sulit di logika.

Ada beberapa hal yang mengganjal di pikiran saya tentang hukuman Komdis terhadap PSIS, yaitu:

  1. Tujuan hukuman adalah membuat seseorang yang bersalah menyesal, dan tak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Dengan hukuman seperti ini apakah Bapak menjamin pemain lain di sepakbola Indonesia tidak melakukan kesalahan yang sama, yaitu pengaturan skor?
  2. Di kubu PSIS, selaku manajer Wahyu Winarto, coach Eko Riyadi, dan para pemain Catur Adi, Saptono, Khomedi, serta Fadly Manna dihukum seumur hidup dilarang beraktifitas dalam dunia sepakbola Indonesia. Namun mengapa masih ada denda uang disana? Dari 6 orang yang saya sebut tadi total denda untuk mereka adalah 800 juta rupiah, spektakuler…
  3. Saya berfikir, yang terlibat memang harus dihukum saya setuju, namun tujuan denda ini apa? Apakah agar mereka jera dan tak mengulangi lagi dikemudian hari? Jika mereka sudah dihukum seumur hidup otomatis mereka tidak akan melakukan kejahatan sepakbola lagi, toh sudah tak diperbolehkan main bola lagi.
  4. Lalu, pemain lain yang tak terlibat juga dihukum larangan bermain dari satu tahun hingga lima tahun serta denda sekitar 50 juta. Para pemain ini hanya menjalankan instruksi Pak Hinca, mereka hanyalah aktor bukan sutradara yang menjalankan alur pengaturan skor. Yang lebih tidak masuk akal, Ronal Fagundez & Julio Alcorse dijatuhi hukuman 5 tahun tanpa aktifitas di sepakbola serta denda masing-masing 150 juta, mereka di bangku cadangan, mereka bisa apa, Pak?
  5. Pembantu umum Pak Suyatno & Messeur Aji pun tak luput dari hukuman, mereka tahu apa tentang pengaturan skor ini, Pak Hinca? Apakah mereka memiliki kapasitas untuk mencegah adanya pengaturan skor?

Bapak Hinca yang terhormat, 5 hal yang menurut saya mengganjal itu mungkin juga dirasakan seluruh pecinta PSIS di tanah air, tak hanya pecinta PSIS, kalangan pecinta sepakbola pun akan bertanya-tanya dengan hukuman ini. Mungkin Bapak bisa menjelaskan dasar hukum apa yang digunakan sehingga para pemain, official, sampai pembantu umum pun harus dihukum sedemikian berat.

Kalau ditotal sekitar 2 milyar pihak PSIS harus setor ke Komdis PSSI, lantas digunakan untuk apakah nantinya uang tersebut, Pak? Apakah ada transparansi dana sehingga kami tak bertanya-tanya? Apakah untuk keperluan Timnas Indonesia yang beberapa waktu terakhir nol prestasi?

Bapak Hinca yang terhormat, seperti yang saya sampaikan di awal surat ini, tujuan hukuman adalah memberi efek jera agar pelaku tak mengulangi kesalahan yang sama hingga kedepannya menjadi orang yang lebih baik. Dengan menghukum secara brutal seperti ini, apakah menjamin kemajuan sepakbola Indonesia? Pemain muda dihukum 5 tahun tak boleh beraktifitas di sepakbola yang tentunya karir tak akan berkembang, ingin membunuh bibit muda sepakbola Indonesia Pak? Lalu, dengan cara seperti ini apakah menjamin pengaturan skor hilang dari sepakbola Indonesia? Menurut saya tidak, karna sekali lagi pemain hanyalah aktor, selama sutradara pengaturan skor belum terungkap dan dihukum, akan ada PSIS & PSS lainnya di suatu saat nanti.

#SavePSIS

#SavePSS

#SaveIndonesianFootball.

Regards,
Wawan Agus Aji Pamungkas

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

One Comment

  1. endokceplok

    November 23, 2014 at 2:20 AM

    Hukuman tidak hanya utk membuat pelakunya jera tp juga sbgai contoh agar dikemudian hari tidak ada yg melakukannya lagi.

    Kejadian spt ini sudah pernah terjadi, dan sekrang terjadi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *