MEDIASEPAKBOLA.co

Pilihan Suporter Untuk Tetap di Tribun

aremania bo

Penyatuan kompetisi sepakbola nasional masih menyisakan bara dalam sekam. Resolusi yang sumir tanpa melalui proses peradilan yang inklusif menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Momentum konflik dapat muncul secara cepat ataupun lambat. Ketika sengketa kadung mencuat, bukanlah peristiwa aktual yang muncul, melainkan konsekuensi dari permasalahan sebelumnya yang tak terselesaikan secara komprehensif.

Beberapa hari terakhir publik sepakbola Malang dicekoki babak baru krisis dualisme yang melanda Arema. Kemelut yang terjadi di tim Singo Edan telah bertransformasi menjadi agenda perselisihan yang harus diselesaikan lewat gugatan hukum.

Kondisi yang menimpa Singo Edan turut menyisakan keprihatinan. Disaat klub lain terus melaju, Arema masih berkutat pada permasalahan internal.

Berbagai elemen suporter trenyuh konflik dalam tubuh Singo Edan kembali mencuat. Tak sedikit diantara mereka menyimpan kekhawatiran friksi ini akan berkembang biak dan memberi ekses kronis bagi klub pujaan Aremania tersebut.

Sebagian suporter juga berharap selama konflik berlangsung, persaudaraan sesama Aremania/Aremanita tetap terjalin. Tak putus harapan agar faksi yang berselisih rela menjaga suasana tetap kondusif.

Mungkin selama proses pengadilan berjalan kita akan disuguhi berbagai fragmen yang menguras tenaga dan emosi. Lazimnya pada persidangan akan terjadi adu argumentasi dari kedua kubu yang berhadapan. Disinilah kedewasaan Aremania menyikapi konflik akan diuji.

Sebagai suporter kita dapat menghindarkan diri dari manuver provokasi dan propaganda yang dapat meresahkan publik. Toh, kedua pihak telah memberikan kuasa kepada tim advokatnya masing-masing untuk bertemu di peradilan

Mari kita hormati proses peradilan yang telah berjalan. Sebagai suporter kita kembali ke tribun tanpa terlibat dalam arus pusaran konflik yang lebih dalam. Kita rangkai kembali persaudaraan sesama Aremania yang sempat rantas. Kita perkuat soliditas untuk membangun klub Arema.

Saya, Anda, dan Mereka, memiliki satu keyakinan terhadap Arema. Semoga konsepsi itu sama, wawasan untuk membangun Arema sebagai pemersatu bukan instrumen supremasi sesaat.

“Football for your love not violence (sepakbola lebih baik saling mencintai daripada saling menghancurkan). Football for friendship not for war (sepakbola lebih baik untuk persahabatan daripada untuk perang). Lets make football is our pride(sepakbola adalah kebanggaan kita)”, kata Sam Harie Pandiono.

Jangan berhenti berdoa dan bermunajat. Semoga ketegangan yang melibatkan seluruh stakeholder Arema segera mencair.

(oke suko raharjo)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *