MEDIASEPAKBOLA.co
Don't miss

Makna Rasis Kini Telah Berubah?

cornel1

Press Conference yang melibatkan Ketua Komisi disiplin(Komdis) PSSI, Hinca Panjaitan di Stadion Kanjuruhan, Minggu(12/10) berlangsung heboh. Acara yang digelar seusai laga Babak Delapan Besar Arema vs Persipura tersebut menjadi ajang wawancara para wartawan media massa dengan perwakilan dari PSSI tersebut.

Salah satu pertanyaan penting yang diutarakan oleh awak media kepada dirinya(Hinca Panjaitan-red) adalah soal lagu rasis. Hal ini terkait dengan banyaknya sanksi yang diberikan oleh komisi disiplin tentang rasis.

“Saya senang bisa berbicara dengan media, karena ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menjelaskan hal itu. Biar, semua orang tidak menuduhkan kami hanya senang memberi sanksi tetapi enggan datang ke Stadion tanpa melihat langsung bagaimana proses,” kata Hinca Panjaitan.

Hinca menjelaskan jika selama 90 menit pertandingan, Aremania memberikan suport kepada tim dengan sangat baik. Hinca sendiri menyatakan menolak jika lagu Aremania ada yang rasis karena dia punya pengertian soal itu.

“Rasis adalah perkataan ataupun ucapan yang bisa disuarakan lewat lagu-lagu yang membuat lawan merasa tidak nyaman di lapangan, selama 90 menit tidak ada perkataan rasis Aremania yang ditujukan kepada Persipura,” kata Hinca.

Soal lagu kepada Bonek, Hinca menilai hal itu tidak dianggap rasis karena Persebaya tidak sedang bertanding. Tetapi, sebenarnya pernyataan Hinca terlihat ambigu mengingat beberapa bulan lalu Arema terkena denda 250 juta rupiah dengan alasan menyanyikan lagu rasis. Jelas laga itu bukan melawan tim yang di lapangan karena ada pada saat Arema bertemu dengan Persija, 18 Mei 2014.

“Bukan, bukan karena itu. Nanti saya lihat dokumennya. Memang perlu diskusi yang sangat panjang untuk hal ini, tidak cukup di bahas dalam jumpa pers,” kata Hinca yang membuat diskusi itu mengambang sejenak dan langsung beralih mendiskusikan flare, dikutip dari Wearemania.

Selain Arema, klub Persida Sidoarjo pernah mendapatkan sanksi berupa denda 50 juta rupiah dari Komisi Disiplin PSSI pada Kamis (8/5/2014) akibat suporternya yang menyanyikan lagu rasis berupa serangan verbal/makian kepada Aremania(suporter Arema), dimana lawan tanding Persida kala itu justru Deltras Sidoarjo.

Kampanye Rasisme dari FIFA dan PSSI
Terpisah, Sam Harie Pandiono mengingatkan kembali pengertian rasisme berdasarkan Artikel no. 3 dari Statuta FIFA yang menyatakan “Discrimination of any kind against a Country, private person or group of people on account of race, skin colour, ethnic, national or social origin, gender, language, religion, political opinion or any other opinion, wealth, birth or any other status, sexual orientation or any other reason is strictly prohibited and punishable by suspension or expulsion”.

“Diskriminasi dalam bentuk apapun terhadap negara, orang pribadi atau sekelompok orang karena ras, warna kulit, etnis, asal nasional atau sosial, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lain, kekayaan, kelahiran atau status lainnya, orientasi seksual atau alasan lain sangat dilarang dan dikenai sanksi suspensi atau usiran”.

Dalam pasal tersebut FIFA memberikan pemahaman bahwa kampanye perlawanan terhadap diskriminasi bersifat universal, tidak spesifik hanya menyentuh pada perbedaan ras dan etnis semata.

Sam Harie juga menegaskan FIFA lewat Resolusi melawan Rasisme pada Kongres Luar Biasa di Buenos Aires 7 Juli 2001, memaknai istilah “rasisme” dalam konteks saat ini berupa tindakan diskriminasi berdasarkan atas semua, tidak eksklusif, pada perbedaan antara individu manusia atas dasar warna kulit dan asal-usul etnis saja.

Pada Artikel 60 dari Regulasi mengenai Stadion dan Keamanan pada Halaman 80 tentang Pencegahan tindakan provokatif dan agresif menyatakan Pelaksana pertandingan harus menjamin bekerjasama dengan aparat keamanan, di stadion atau sekitar langsung, diharuskan pendukung tidak bertindak secara provokatif atau agresif. Ini termasuk, Misalnya, tingkat yang tidak dapat diterima provokasi lisan atau agresi terhadap pemain, pejabat pertandingan pejabat atau supporter lawan, perilaku rasis dan spanduk.

“Tidak disebutkan disitu bahwa sasaran serangan rasis ditujukan kepada hanya yang sedang main atau tidak. Jadi rasis jelas dilarang seluruhnya”, ujar Sam Harie.

Regulasi ISL 2014 sendiri turut mengatur masalah rasis. Pasal 59 berisi Hal-hal yang mengganggu jalannya Pertandingan seperti flare, fireworks, smoke bomb, spanduk yang bernada rasis, yel-yel serta hal lain dapat dikategorikan sebagai sebuah pelanggaran disiplin dan akan dikenakan sanksi sesuai dengan Kode Disiplin PSSI.

Dalam Kode Disiplin PSSI juga memperinci hukuman yang ditujukan kepada pelaku rasisme(pasal 59 ayat 1-4) kepada Siapapun yang melakukan tindakan rasis berupa tingkahlaku buruk, diskriminatif atau meremehkan seseorang atau melecehkan seseorang dengan cara apapun dengan tujuan menyerang atau menjatuhkan nama baik orang tersebut yang terkait dengan pertandingan, warna kulit, bahasa, agama atau suku bangsa atau melakukan tindakan rasisme lainnya dengan cara apapun.

Selain mengatur tingkah laku buruk berupa tindakan rasis, dalam Kode Disiplin PSSI mengontrol Hak Kebebasan Individu. Segala tingkah laku buruk dalam pertandingan sepakbola berupa intimidasi, penghinaan atau fitnah dapat dijatuhi hukuman serius.

Kode Disiplin PSSI Pasal 60 ayat 1 berbunyi larangan bertingkah laku buruk dengan melakukan intimidasi, penghinaan, penistaan, tuduhan tanpa dasar, dan atau fitnah yang dilakukan dengan cara apapun tanpa menggunakan kekuatan fisik dengan tujuan menyerang nama baik dan atau kehormatan dan martabat sesorang, pemain, ofisial tim, klub, perangkat pertandingan, penonton, institusi PSSI dan atau pihak-pihak lain yang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sepakbola yang dilakukan oleh seseorang atau dilakukan sekelompok orang adalah perbuatan tidak sportif dan melanggar hak dasar kebebasan individu yang hakiki.

Resmi Atau Belum?
Hasil press conference kemarin masih terkesan menggantung dan belum jelas apakah statemen Hinca Panjaitan berasal dari pribadi atau justru mewakili organisasi Komdis PSSI yang dipimpinnya.

Bilamana pernyataan tersebut berasal dari organisasi, tentunya anomali dengan pengertian rasisme menurut kamus FIFA dan Kode Disiplin PSSI. Terkecuali jika terdapat revisi dan ‘penyempurnaan’ aturan yang berlaku dikemudian hari.

Apabila terdapat perubahan terhadap revisi peraturan yang berlaku(Kode Disiplin PSSI), sudah barang tentu telah diajukan dan disahkan melalui mekanisme Kongres PSSI. Namun hingga saat ini belum terdapat ihwal rilis press mengenai hal ini.

Namun apabila pernyataan diatas merupakan statemen pribadi, menarik kita tunggu mengenai keseriusan penegakan kampanye anti rasis oleh Komisi Disiplin PSSI dimasa yang akan datang. Publik akan menanti ketegasan Komisi Disiplin dalam kampanye anti rasis pada seluruh pertandingan/event yang dinaungi oleh PSSI.

“Jika PSSI sendiri tidak dapat menafsirkan secara benar makna rasisme dari FIFA, bagaimana mereka bisa mendidik insan supporter? Inkonsistensi PSSI dalam menegakkan aturan karena kurang memahami arti Peraturan FIFA itu sendiri. Jika PSSI dapat mensosialisasikan kampanye anti rasis secara eksplisit ke suporter, maka praktek rasisme yang terjadi selama ini dapat dilenyapkan” pungkas Sam Harie.

Perbedaan tafsir yang dialami oleh insan sepakbola nasional dalam memaknai rasisme hendaknya disikapi secara bijak. Organisasi sepakbola tertinggi tanah air dapat mengambil kesempatan ini dengan peran aktif kampanye anti rasis secara maksimal hingga kalangan grass root.

Penulis
Oke Suko Raharjo

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *