MEDIASEPAKBOLA.co

Bonek : AFC are you afraid??

bonek away myanmar

Remember remember 1927 will always stand forever.

Bonek supporter yang selama ini dikenal fanatik mendukung (real) Persebaya kali ini pun turut serta mensupport langsung perjuangan Garuda Jaya Timnas U-19 di ajang AFC Cup 2014 Myanmar.

Di negeri yang dikuasai Junta Militer tersebut kami juga berjuang untuk save (real) Persebaya. Dengan mengibarkan spanduk dan menyebarkan manifesto yang pernah kami sebarkan saat aksi demo ke markas AFC setahun yang lalu, juga saat pemilihan pemain terbaik di markas FIFA di Zurich oleh Bonek Swiss.

Seperti yang diketahui (real) Persebaya tidak diakui PSSI dan ada pihak yang tidak dikenal memakai dan menggunakan brand berupa nama dan logo. Pihak tidak dikenal ini yang akhirnya di akui PSSI. Kami sebagai supporter yang waras akan sejarah klub Persebaya akan terus selalu berjuang agar (real) Persebaya bisa mendapatkan haknya sebagai anggota PSSI.

Saat pertandingan Indonesia Vs Uzbekistan di pertengahan babak pertama di pinggir lapangan ada beberapa orang menunjuk – nunjuk ke arah banner kami. Sejurus kemudian teman – teman wartawan menyampaikan bahwa banner kami diminta diturunkan. Saya menolak!! Tidak beberapa lama kemudian tiga orang polisi naik menghampiri tribun kami.

Kami dari Bonek Malaysia, Jakarta dan Surabaya langsung pura – pura menutup jalan polisi tersebut sambil bernyanyi. Sesaat setelah melewati sebelah kanan saya, secara reflek tangan saya menarik lengan polisi pertama yang ternyata perwira menengah (baru mengetahui setelah melihat fotonya).

Saya menanyakan kenapa banner kami di turunkan. Saya jelaskan itu local team kami. Saya jelaskan tidak ada rasis di sana. Kawan – kawan yang lain yang tidak ada hubungannya dengan (real) Persebaya pun membantu kami. Mereka tidak rela banner kami diturunkan paksa. Polisi tersebut pun bingung karena tidak ada alasan buat mereka mencopot. Tetapi pihak AFC dan panpel lokal dari pinggir lapangan terus meminta banner kami di turunkan.

Melihat itu saya teriak ke orang AFC. “You come here” sambil gesture tangan menunjuk dan mengundang datang ke atas tribun. Akhirnya polisi tersebut turun setelah diyakinkan bahwa banner tersebut aman. Tetapi pihak AFC masih saja bolak balik ke depan tribun kami sambil sesekali berkomunikasi melalui HT.

Ternyata persoalan banner tidak sampai disitu, setelah pertandingan selesai kami menunggu pemain dan pelatih memasuki bis. Dua rekan saya Bonek Malaysia dipanggil KBRI bersama pihak PSSI dan AFC. KBRI menyarankan untuk tidak memasang kembali banner tersebut karena adanya unsur provokasi.

Sehari kemudian setelah berita ini ramai di media sosial di Tanah Air. Kami mengatur strategi untuk pertandingan berikutnya. Ada beberapa opsi dan ide yang muncul. Mulai dari beli lakban dan ditutup tulisan #HelloAFC nya. Sampai atur posisi duduk biar kesorot kamera televisi. Kebetulan ketika lawan Uzbekistan karena alasan dekat dengan tribun VIP, drum band KBRI tidak bisa masuk. Jadi pertandingan berikutnya saya meminta teman – teman untuk masuk di Tribun Timur berhadapan dengan VIP.

Pemikiran saya ketika banner ini dipasang ada jeda waktu beberapa menit untuk orang – orang AFC tersebut memutari lapangan. Alhamdulillah meskipun membeli tiket yang lebih mahal seharga 5000 ks. Kawan – kawan mau untuk masuk di tribun ekonomi seharga 2000 ks.

Hari H pertandingan melawan Australia akhirnya disepakati :
1. Banner tidak perlu di lakban.
2. Dipasang setelah babak ke II berjalan 10 menit.
3. Jika polisi yang datang, akan dipertahankan dan menyuruh orang AFC untuk naik ke Tribun.
4. Jika Orang AFC terpancing naik ke Tribun. Kesempatan untuk menyerahkan Manifesto dan merekam aksi mereka.

Dugaan kami benar, saat sedang asyik bernyanyi mendukung Garuda tiba –tiba dari sebelah kanan orang AFC yang akhirnya diketahui bernama Hasan Haider Khan datang bersama 2 orang pihak KBRI dan beberapa orang polisi Myanmar.

Langsung saya merekam dan nampak Hasan ini menutupi kamera tidak ingin direkam. Saya menjelaskan seperti sebelumnya bahwa banner kami tidak mengandung unsur rasisme.

Tampaknya orang AFC ini tidak nyaman dengan mempermasalahkan adanya tulisan #HelloAFC. Mengetahui hal ini saya menggoda dengan menyapa “Hello AFC”. Setiap dia berbicara saya tidak dengarkan dan potong berulangkali dengan menyapa “#Hello AFC”.

Sapaan saya kemudian diikuti kawan – kawan yang lainnya. Salah seorang saudara kami dari Semarang kemudian terlibat dialog seru dan saya gunakan kesempatan itu untuk menduduki banner agar tidak diambil dan merekam semuanya.

Hasan menjelaskan artikel-artikel di FIFA dan AFC yang menurutnya banner tersebut mengandung unsur provokasi. Entah ketakutan apa yang menjadi alasan dia.

Yang jelas di FIFA pun aksi kami tidak dipermasalahkan mereka. Ingatan saya pun kembali setahun yang lalu saat aksi demo ke markas AFC di Kuala lumpur. Pihak AFC tiba – tiba menuduh kami suruhan Sihar Sitorus dan mengancam akan memanggil polisi untuk menangkap kami.

AFC : ARE YOU AFRAID???

Yangon, Myanmar 12 Oktober 2014

Hanafi Habibi
Arek Bonek 1927

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *