MEDIASEPAKBOLA.co

Pembentukan Tim U-19 B: Pembinaan atau Komoditi Dagangan?

timnas Indonesia u.19 at HKG

Keputusan PSSI untuk membentuk Timnas U-19 tim B memberikan sebuah pro-kontra baru bagi masyarakat kita. Masyarakat kita yang haus akan gelar juara – yang selama ini digadang-gadang akan dipersembahkan oleh timnas junior kita ini, mendadak antiklimaks. Beberapa harapan seakan menghilang. Namun tak sedikit pula yang optimis, dan masih berharap bahwa angin segar masih akan segera datang menaungi tim kita.

Hasil kekalahan konyol dari tim sekelas Thailand tentu saja membuat publik semakin bertanya-tanya, apa motif dibentuknya tim B? Jika memang dipersiapkan seperti yang dikatakan PSSI melalui BTN, apa implikasinya? Mengapa kualitasnya tak sepadan dengan tim A?

Di negara-negara yang sepakbolanya maju – atau paling tidak berniat untuk maju, tim nasional di kelas junior seperti U-16, U-17, U-18, U-19, hingga U-22 dibagi menjadi beberapa bagian. Tujuannya adalah agar pemain-pemain yang begitu banyaknya dan melimpah di usia dini dapat terpantau oleh talent scouting yang ditugaskan oleh federasi sepakbola negara tersebut. Dari sinilah diperoleh pemain-pemain muda berbakat, wonderkid-wonderkid baru dalam persepakbolaan mereka, yang dapat menjadi semacam investasi bagi tim seniornya di masa datang.

Setelah muncul bibit-bibit muda tersebut, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh federasi negara itu adalah mencari pelatih yang berpengalaman untuk melatih youngster. Beberapa dari mereka dipilihlah pelatih-pelatih asing asal Eropa contohnya, yang berkomitmen untuk mendidik dan menerapkan prinsip dasar sepakbola Eropa, yang selama ini kita kenal baik dan disiplin, dengan tujuan agar dapat tercipta bibit-bibit sepakbola yang berpendidikan.

Nah, pertanyaannya: sudahkah hal seperti itu dilakukan di Indonesia?

Saya pada dasarnya sepakat dengan pembentukan tim B pada timnas junior. Tetapi, mengapa cuma di Timnas U-19? Sulit memang menerka, faktor bisnis mungkin jadi pertimbangan. Mungkin tim B ini tidak akan terbentuk jika tidak melihat potensi pendapatan dari Tur Nusantara, hehehe…

Harusnya kan jelas bahwa pembentukan semacam ini harus dibentuk di tim nasional usia junior, bukan hanya tim U-19. Selain itu, di negara-negara yang sepakbolanya maju (atau berniat untuk maju), tim A dan tim B pelatihnya sama. Ini sangat baik mengingat pelatih sangat berkompeten dalam menentukan posisi sekaligus kekurangan dan kelebihan kedua tim. Bisa saja tim A mencomot pemain tim B karena dapat mengisi kekosongan di tim A, begitu pula sebaliknya. Jadi akan tercipta suatu kepaduan yang berimbas terhadap kekuatan tim itu sendiri.

Pembinaan usia dini memang menjadi yang utama bagi dunia persepakbolaan. Namun tak sepantasnyalah pembinaan usia dini menjadi sebuah komoditi untuk mengeruk pundi-pundi keuntungan yang justru tak jelas jluntrungannya. Sementara di luar sana masyarakat semakin tak sabar untuk menanti lahirnya bibit-bibit baru di persepakbolaan kita. Sebuah penantian tak berujung, memang. Tetapi, masyarakat memang menginginkannya. Dan harapan itu ada di pundak tim U-19 yang kini jadi komoditi ini…

Alangkah besar harapan yang kini bangkit itu. Alangkah besar harapan mereka untuk melihat anak-anak muda ini tampil di even paling prestisius: tampil di Piala Dunia! Alangkah besar pula degup jantung mereka ketika melihat anak-anak muda ini tampil di televisi. Semoga dapat segera terwujud. Semoga… (PRV)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments