MEDIASEPAKBOLA.co

Tolak Politisasi Sepakbola, Suporter Jangan Berpolitik

suporter jateng jkt

Nurdin Halid sebagai mantan ketua umum PSSI, pada saat Piala AFF 2010 pernah santer dikatakan oleh masyarakat dan suporter telah mempolitisasi sepakbola dan timnas Indonesia, mulai dari pernyataan bahwa sukses timnas adalah jasa dari ketua Partai Golkar, sarapan pagi skuad timnas di kediaman ketua Partai yang beratribut kuning tersebut, istiqhosah pemain timnas hingga memajang spanduk pencitraan para tokoh partai di stadion Shah Alam, Kuala Lumpur, Malaysia.

Bagi politikus, kerumunan kelompok suporter yang berjumlah hingga puluhan ribu memang sangat memancing minat mereka untuk coba meraih simpati serta  dukungan suara para fans club bagi dirinya  dalam Pemilu.

Sebenarnya hal tersebut kini lucunya mulai menular ke kalangan tokoh suporter yang mulai mengambil keuntungan pribadi untuk menjadi anggota dewan dan aktif menjadi pengurus partai.

Conflict of interest adalah sebuah konflik berkepentingan yang terjadi ketika sebuah individu atau organisasi yang terlibat dalam berbagai kepentingan, salah satu yang mungkin bisa merusak motivasi untuk bertindak dalam lainnya.

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya

Politisasi suporter makin marak secara nyata terjadi di lingkup kelompok suporter baik secara organisasi resmi maupun yang dilakukan oleh para tokoh suporter tersebut.

Lucunya bahkan ada kelompok suporter yang bertahun-tahun nyata-nyata dipimpin oleh anggota DPRD setempat yang kehadirannya dalam kegiatan suporter dapat dihitung dengan jari. Sang Ketua hanya mendekat apabila ada kepentingan politis yang menguntungkan dirinya dan pencitraan dirinya.

Pada saat pemilu yang dihelat April 2014 lalu, beberapa tokoh kelompok suporter di berbagai daerah mulai percaya diri menyatakan ke publik bahwa dirinya adalah caleg dari partai tertentu dengan harapan rekan sesama suporternya memilih dalam pemilu yang katanya adil dan rahasia tersebut. Ada yang sukses melenggang menjadi anggota dewan dan ada pula yang gigit jari karena gagal total.

Suporter berpolitik memang  tidak dilarang tapi secara etika hendaknya hal tersebut dihindari oleh para tokoh suporter.

Kalau memang mau maju menjadi caleg dalam pemilu, hendaknya para tokoh suporter tersebut secara resmi mengajukan pengunduran diri dari kepengurusan organisasi suporter, agar klub dan suporternya tidak tersandera kepentingan politis dari para pengurus yang bisa saja saling berebut mengambil kebijakan yang bertujuan menguntungkan partainya masing-masing.

Hal lainnya yang bisa diambil adalah mencantumkan larangan pengurus suporter untuk aktif di kepengurusan partai, hingga adanya kode etik yang wajib dipahami para suporter atas larangan tersebut.
(Wahyu Hidayat)

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments