MEDIASEPAKBOLA.co
Don't miss

Suporter Berinvestasi, Siapkah?

pasoepati timnas

Klub sepakbola dan suporter adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, keduanya saling memiliki ketergantungan antara satu dengan yang lain. Di era sepakbola industri seperti sekarang, peran suporter akan menjadi sangat penting bagi klub yang didukungnya.

Contohnya, selain memberi dukungan langsung di stadion, suporter bisa juga berperan sebagai investor penyandang dana bagi klub mereka, disamping adanya sponsor. Hasil penjualan tiket dan merchandise bahkan bisa mendongkrak keuangan klub, jika disertai dengan pengelolaan yang baik.

Di kota Solo berdiri sebuah klub bernama Persis Solo, salah satu klub tertua di Indonesia yang mempunyai suporter yang terkenal militan dan atraktif, yaitu Pasoepati. Tapi sayang, klub yang di era Perserikatan pernah meraih 7 kali gelar juara ini, beberapa tahun terakhir justru terpuruk karena kurang dikelola dengan baik. Antusiasme suporter dan penonton yang kerap memenuhi tribun stadion, seakan berbanding terbalik dengan prestasi tim.

Kota Solo sendiri sebenarnya memiliki potensi besar, terlihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan ternama yang seharusnya bisa menjadi investor bagi Persis Solo. Sayangnya, melihat pengelolaan klub Persis Solo yang dinilai kurang profesional, tampaknya menjadi faktor utama keengganan dari kalangan pengusaha di Solo untuk berinvestasi di Persis Solo.

Disisi lain, diluar konteks investasi yang dilakukan oleh perusahaan, sebenarnya suporter Pasoepati juga bisa berperan sebagai investor untuk klub kebanggaan mereka. Salah satunya yaitu dengan cara membentuk koperasi suporter lalu menjalin kerjasama dengan lembaga investasi.

Diawali dengan setiap individu yang menginvestasikan dananya sebesar Rp 200.000 untuk jangka waktu 1 tahun. Jika ada 5000 anggota yang mau berinvestasi, maka akan terkumpul dana sebesar 1 Milyar. Nominal 1 Milyar tersebut merupakan “dana abadi” yang nantinya dikelola suporter lewat koperasi yang sudah dibentuk dan berbadan hukum melalui kerjasama dengan lembaga investasi yang terpercaya.

Nantinya, keuntungan dari hasil pengelolaan dapat digunakan untuk membantu kebutuhan pemain dan operasional klub. Seperti membayar katering, pemeliharaan mess pemain, asuransi kesehatan pemain, dan lain-lain. Bahkan, bukan tidak mungkin beberapa tahun kemudian suporter bisa menjadi pemilik klub dengan membeli beberapa persen saham klub dari hasil keuntungan berinvestasi tersebut.

Dengan konsep dana abadi, dana awal investasi sebesar 1 Milyar tersebut nantinya akan tetap utuh, karena hanya keuntungan hasil pengelolaannya saja yang digunakan untuk membantu klub. Justru dana tersebut akan cenderung berlipat ganda dari tambahan iuran anggota pada tahun-tahun berikutnya dan dari iuran anggota-anggota baru.

Melalui kerjasama dengan lembaga investasi yang kredibel, pengelolaan dana tersebut juga jelas dan ada audit berkala serta kewajiban untuk dipublikasikan hasil auditnya. Dana diarahkan untuk investasi produk resiko rendah seperti obligasi negara, pasar uang antar bank, dan lainnya. Selanjutnya, hanya margin/keuntungan dari investasi tersebut yang akan diserahkan untuk membantu operasional klub.

Sementara, tugas manajemen klub tetap mencari dana pokok kompetisi baik dari sponsor, penjualan tiket, fee hak siar televisi, subsidi pengelola liga dan lainnya. Jika ini bisa terealisasi, maka suporter akan lebih merasa memiliki klubnya, sehingga akan berfikir dua kali jika ingin melakukan tindakan yang bisa merugikan klub baik di dalam maupun diluar stadion. Manajemen pun akan berfikir dua kali jika ada keinginan untuk menyelewengkan dana kompetisi, karena suporter juga akan ikut andil dalam pengawasan keuangan klub.

Selain investasi dana abadi, penjualan merchandise juga bisa menjadi pendongkrak keuangan klub. Di Solo sendiri sudah banyak distro-distro suporter, contohnya Pasnet Store, D’Abang 1923, NUPM, dan Warung Soeporter yang beberapa waktu lalu membentuk paguyuban distro. Mereka bahkan menyisihkan beberapa persen keuntungan dari penjualan untuk biaya kreatifitas dan sebagian untuk memberi penghargaan pada pemain.

Selain itu, ada Pasoepati Ultras yang bersama penghuni tribun selatan Manahan beberapa waktu lalu juga membuka distro mereka, SUCS Merch. Beberapa aksi seperti pemberian penghargaan untuk pemain terbaik dalam beberapa pertandingan, juga sudah dilakukan dengan biaya dari keuntungan hasil penjualan produk mereka.

Melihat potensi yang ada, akan sangat lebih maksimal jika dari pengelola distro secara bersama-sama membentuk suatu badan usaha yang nantinya bisa menjadi pemasok kostum untuk klub dengan nama dagang/merk sendiri. Dengan melakukan kerjasama bersama klub, badan usaha tersebut nantinya bisa memproduksi berbagai macam merchandise yang tentunya berlabel original. Keuntungan hasil penjualan dibagi sesuai kesepakatan kerjasama dan langsung masuk ke kas klub.

Suporter juga menjadi lebih mudah jika ingin membeli kostum maupun pernak-pernik klub kebanggaan mereka yang tentunya berlabel original, dan dengan harga yang lebih terjangkau. Dengan lebih mudahnya suporter mendapatkan merchandise klub dan terjangkaunya harga, maka efeknya adalah semakin banyak kalangan yang memakai identitas klub lokal.

Dari situ akan menumbuhkan kembali suasana masyarakat kota Solo yang cinta klub lokal mereka Persis Solo. Imbas yang lebih besar lagi adalah pengusaha-pengusaha lokal akan melirik Persis Solo untuk menginvestasikan dana dan menjadikan Persis Solo sebagai ajang promosi produk atau jasa mereka. Dan seterusnya, Persis Solo akan menjadi klub mandiri dan profesional yang siap mencetak prestasi dan melahirkan bakat-bakat untuk menyuplai pemain bagi tim nasional Indonesia.

Jadi, siapkah suporter menjadi investor bagi klub kebanggaannya??

Penulis,

Isnu Haryanto

SebarkanShare on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Komentar Anda

comments